BORNEONEWS, Sampit - Sorak-sorai penonton dan hiruk-pikuk pembukaan turnamen sepak bola biasanya menjadi suara yang mendominasi Stadion 29 Nopember Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Namun sore itu, perhatian sebagian pengunjung justru tertuju pada alunan kecapi yang mengalir lembut di antara keramaian.
Di panggung yang berdiri megah di depan tribun penonton saat itu, empat pria duduk berjejer memainkan alat kecapi dan gendang. Sedangkan satu orang berambut putih panjang sebahu berdiri mengalunkan syair-syair. Jemari pria berambut putih itu lincah memetik senar kecapi, mengiringi lirik berbahasa Dayak Ngaju yang ia lantunkan dengan penuh penghayatan. Pria itu bernama Kornadi, seniman Karungut yang selama puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk menjaga salah satu warisan budaya Kalimantan Tengah.
Usianya kini 63 tahun. Waktu telah mengubah warna rambutnya menjadi putih, tetapi semangatnya menjaga Karungut masih sama seperti saat pertama kali mengenalnya puluhan tahun silam.
Kecintaannya terhadap seni budaya Kalimantan Tengah itu berakar dari lingkungan keluarga. Sejak kecil, ia tumbuh di rumah yang akrab dengan dunia kebudayaan. Dahulu, ayahnya aktif di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang menggemai Karungut. Sementara sang kakak lebih dulu mengikuti jejak sang ayah memasuki dunia seni Karungut, bahkan termasuk generasi awal yang sempat merekam karya dalam bentuk kaset pita di Kalimantan Tengah.
Meski sudah mengenal Karungut sejak kecil, Kornadi baru benar-benar menekuninya ketika duduk di bangku SMA pada era 1980-an. Awalnya ia hanya berniat untuk mengikuti jejak sang kakak. Namun dari rasa penasaran itu tumbuh ketertarikan yang kemudian menjelma menjadi panggilan hidup.
Ia mulai aktif mengikuti berbagai perlombaan seni Karungut semasa SMA dan menorehkan berbagai prestasi. Sejak saat itu, Karungut tak lagi sekadar hobi, melainkan bagian dari identitas dirinya.
Bagi Kornadi, Karungut bukan hanya seni pertunjukan. Di balik lantunan syair dan petikan kecapi, terdapat ruang untuk menyampaikan pesan-pesan kehidupan.
Melalui Karungut, seseorang dapat bercerita tentang sejarah, legenda, nasihat, hingga kritik sosial. Dahulu, kesenian ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Dayak. Karungut hadir dalam pesta panen, upacara adat, hingga berbagai pertemuan masyarakat.
Namun zaman terus bergerak. Masuknya musik modern dan perubahan selera generasi muda membuat ruang Karungut semakin menyempit. Di tengah derasnya arus hiburan digital, kesenian tradisional itu perlahan kehilangan panggung.
Kornadi menyadari kenyataan tersebut. Banyak anak muda menganggap Karungut sebagai kesenian lama yang kurang menarik. Belum lagi, dunia seni tradisional jarang menjanjikan keuntungan ekonomi yang besar. Meski demikian, ia memilih bertahan.
Baginya, melestarikan budaya tidak cukup hanya dengan mengenang masa lalu. Tradisi juga harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Pemikiran itulah yang mendorongnya menciptakan kecapi elektrik. Bentuknya tetap mempertahankan nuansa etnik dayak, tetapi mampu menghasilkan warna musik yang lebih sesuai dengan kebutuhan panggung modern.
Inovasi itu menjadi salah satu cara agar Karungut tidak kehilangan pendengar. Langkah lain yang ia tempuh adalah menyesuaikan bahasa dalam syair. Jika selama ini Karungut identik dengan bahasa Dayak Ngaju, Kornadi mulai memasukkan bahasa Banjar, bahkan bahasa Indonesia, dalam sejumlah karya dan penampilannya. Sebab menurutnya, tujuan utama Karungut adalah menyampaikan pesan. Karena itu, pesan tersebut harus bisa dipahami oleh mereka yang mendengarkannya.
Salah satu karya Karungut yang ia ciptakan menggunakan bahasa Banjar berisi ajakan menjauhi narkoba. Dengan bahasa yang lebih akrab di telinga masyarakat, terutama anak muda Sampit, pesan itu diharapkan lebih mudah diterima.
"Yang paling penting bagi saya bukan hanya melantunkan Karungut, tetapi bagaimana pesan yang ada di dalamnya bisa dipahami oleh masyarakat. Kalau orang yang mendengar tidak mengerti bahasanya, maka pesan itu tidak akan sampai. Karena itulah saya mencoba menggunakan bahasa yang lebih akrab, supaya nilai-nilai yang ingin disampaikan tetap bisa diterima," ujar Kornadi, Sabtu, 20 Juni 2026.
Penyesuaian itu bukan berarti meninggalkan akar tradisi. Sebaliknya, menjadi upaya agar Karungut tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.
Hingga kini, Kornadi masih aktif tampil di berbagai kegiatan. Ia kerap diundang mengisi acara pernikahan, pameran, kegiatan pemerintahan, hingga pertunjukan hiburan di hotel-hotel di Sampit. Tak jarang ia mengajak teman-temannya sesama seniman untuk memainkan alat musik tradisional mengiringi lirik Karungut yang ia lantunkan.
Bagi sebagian orang, jalan yang ia pilih mungkin tidak menjanjikan kemewahan. Namun bagi Kornadi, ukuran keberhasilan bukan terletak pada besar kecilnya bayaran.
"Dibayar orang juga tidak membuat kaya, tidak dibayar juga tidak membuat miskin. Saya tetap jalan terus melestarikan budaya," katanya.
Di tengah berbagai tantangan, ia masih menyimpan optimisme. Kehadiran anak-anak muda yang mulai mengenalkan Karungut melalui media sosial memberinya harapan bahwa kesenian ini belum kehilangan masa depan.
Karungut memang tidak lagi menjadi hiburan utama seperti dahulu. Namun selama masih ada yang bersedia menjaga dan memperjuangkannya, suara itu akan tetap terdengar. Kornadi adalah salah satunya.
"Karena budaya tidak hilang karena usia atau perkembangan teknologi. Budaya akan lenyap ketika tidak ada lagi yang peduli untuk merawatnya," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/Y)









