PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Katingan – Kekayaan kuliner masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah kembali terlihat melalui makanan tradisional khas Katingan Hulu yang dikenal dengan nama Luntuh Dawen Jawau.

Hidangan ini masih bertahan di tengah perkembangan kuliner modern dan tetap menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

Salah seorang warga Katingan Hulu Desa Tumbang Dahuei, Dowa, mengatakan Luntuh Dawen Jawau merupakan makanan khas yang diolah secara tradisional menggunakan bahan-bahan alami dari lingkungan sekitar, termasuk hasil sungai yang masih segar.

Menurutnya, salah satu ciri khas makanan ini adalah proses pengolahan ikan sungai yang diolah dengan cara sederhana, yakni diulek menggunakan cobek dan alat tumbuk dari kayu ulin, sehingga menghasilkan cita rasa khas yang tidak ditemukan pada olahan modern.

"Luntuh Dawen Jawau ini salah satu makanan khas masyarakat Dayak Katingan Hulu. Pengolahannya masih tradisional, menggunakan ikan sungai yang diulek dengan cobek dan ulekkan dari kayu ulin," ujar Dowa, saat dikonfirmasi BORNEONEWS Sabtu 20 Juni 2026 malam.

Ia menjelaskan, penggunaan alat tradisional tersebut menjadi bagian penting dari kearifan lokal masyarakat Dayak dalam menjaga cita rasa dan keaslian makanan warisan leluhur.

Dowa menambahkan, makanan khas seperti Luntuh Dawen Jawau harus terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Menurutnya, eksistensi kuliner tradisional merupakan bagian dari identitas budaya yang perlu dijaga bersama.

"Makanan ini harus tetap eksis dan dikenal generasi muda. Jangan sampai warisan kuliner seperti ini hilang karena tidak diperkenalkan lagi," katanya.

Ia berharap pemerintah daerah, pelaku budaya, dan masyarakat dapat terus berkolaborasi dalam melestarikan kuliner tradisional Dayak, termasuk melalui kegiatan promosi wisata budaya dan edukasi di lingkungan sekolah.

Dengan demikian, Luntuh Dawen Jawau tidak hanya menjadi makanan khas daerah, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya Kalimantan Tengah yang terus hidup dan diwariskan lintas generasi. (MARINI/H)