SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menyoroti masih minimnya jumlah guru agama Hindu di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kondisi tersebut menyebabkan ratusan satuan pendidikan belum mendapatkan layanan pendidikan agama Hindu secara optimal.

"Terkait dengan kekurangan guru, untuk di Kotawaringin Timur khususnya, banyak sekolah-sekolah yang belum terisi guru agama Hindu. SD misalnya, ada 246 satuan pendidikan di SD, baru ada gurunya hanya 29 orang. SMP ada 19 guru dari 114 satuan pendidikan,” kata Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat Hindu Kanwil Kemenag Kalteng I Made Adnyana, Minggu, 21 Juni 2026.

Menurutnya, keterbatasan tenaga pendidik tersebut menjadi tantangan dalam pemenuhan hak peserta didik untuk memperoleh pendidikan agama sesuai keyakinannya sebagaimana diamanatkan dalam peraturan perundang-undangan.

Karena itu, pihaknya berharap Pemkab Kotim dapat memberikan perhatian lebih dengan membuka dan mengalokasikan formasi guru agama Hindu pada rekrutmen aparatur sipil negara maupun skema lainnya.

"Kami berharap pemerintah daerah bisa mengalokasikan formasi untuk guru agama Hindu. Bagaimanapun juga, mereka adalah warga Kotim yang perlu mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan undang-undang Sisdiknas atau Sistem Pendidikan Nasional,” ujarnya.

Made Adnyana menegaskan bahwa setiap peserta didik berhak mendapatkan pembelajaran agama sesuai agama yang dianutnya.

Bahkan, idealnya setiap sekolah memiliki guru agama yang dapat melayani kebutuhan siswa, meskipun jumlah penganut agama tertentu di sekolah tersebut tidak banyak.

"Minimal, satu satuan pendidikan, satu orang siswa beragama apapun, ada gurunya," tegasnya.

Ia menilai pendidikan agama memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda. Penguatan nilai-nilai keagamaan sejak usia dini diyakini dapat menjadi benteng terhadap berbagai persoalan sosial yang mengancam kalangan remaja.

"Sehingga mereka dari sejak dini benar-benar dibekali ajaran-ajaran agama. Sehingga kenakalan remaja bisa dihindari, penyalahgunaan narkoba juga bisa dihindari dengan penguatan ajaran agama sejak dini," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/R)