KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Saat sirene ambulans atau mobil pemadam berbunyi, perhatian masyarakat biasanya tertuju pada situasi darurat yang sedang terjadi. Namun, di balik respons cepat itu ada para relawan yang bekerja tanpa banyak dikenal publik. Salah satunya adalah Eza Ramadhan, pemuda berusia 27 tahun yang memilih mengabdikan diri sebagai relawan ambulans sekaligus relawan pemadam kebakaran.

Sekitar dua tahun terakhir, Eza aktif membantu berbagai kegiatan kemanusiaan secara sukarela. Ia terlibat dalam evakuasi pasien, korban kecelakaan lalu lintas, hingga pengangkutan jenazah, serta ikut turun ketika terjadi musibah kebakaran.

Keputusan itu berawal dari kekagumannya terhadap almarhum Guru Zuhdi, ulama kharismatik asal Kalimantan Selatan yang dikenal luas tidak hanya melalui dakwahnya, tetapi juga karena kepeduliannya terhadap kegiatan sosial dan kemanusiaan.

“Jadi ikut relawan ini karena almarhum Guru Zuhdi, melihat beliau jadi relawan,” ujar Eza, Minggu, 21 Juni 2026.

Dalam kesehariannya, Eza lebih sering bertugas sebagai sopir ambulans saat ada pasien atau korban kecelakaan yang membutuhkan penanganan. Sementara ketika terjadi kebakaran, ia juga ikut terlibat sebagai bagian dari tim relawan pemadam kebakaran sesuai kebutuhan di lapangan.

Menurutnya, komunitas relawan tempat ia bergabung tidak menerapkan sistem shift yang baku. Selalu ada anggota yang bersedia siaga sehingga bantuan dapat diberikan kapan saja selama 24 jam. Saat ini, Eza lebih banyak mengambil jadwal malam karena pada siang hari ia tetap menjalani pekerjaan utamanya.

Berbagai pengalaman telah dilaluinya selama menjadi relawan. Salah satunya adalah mengemudikan ambulans hingga Kuala Kurun untuk mengevakuasi korban kecelakaan dengan kondisi serius. Baginya, setiap panggilan darurat adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Meski usianya masih 27 tahun dan sebagian besar rekan relawannya berusia di atas 30 tahun, Eza tetap berkomitmen meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu masyarakat. Ia berharap selalu diberi kesehatan dan rezeki agar dapat terus menjalankan kegiatan kemanusiaan tersebut.

Kisah Eza hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang belum banyak terekspos. Di Kuala Kapuas, masih ada banyak pemuda yang memilih menjadi relawan ambulans, pemadam kebakaran, maupun kegiatan kemanusiaan lainnya tanpa mengharapkan imbalan atau sorotan. Mereka bekerja di balik layar, hadir ketika masyarakat menghadapi keadaan darurat, dan menjadi bukti bahwa semangat gotong royong serta kepedulian sosial tetap hidup di tengah kehidupan sehari-hari. (SABRIANOOR/j)