BORNEONEWS, Katingan – Anggota Komisi III DPRD Kalimantan Tengah, Faridawaty Darland Atjeh, menyoroti masih adanya anak-anak di wilayah pelosok yang mengalami putus sekolah dan menikah pada usia dini. Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama karena berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Faridawaty mengatakan, akses pendidikan yang merata merupakan kunci untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mempersiapkan generasi muda yang mampu bersaing di berbagai bidang.
"Anak-anak di daerah pelosok yang putus sekolah dan menikah dini harus mendapat perhatian serius dari pemerintah, keluarga, dan seluruh pemangku kepentingan. Mereka berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan dan masa depan yang lebih baik," ujarnya, Senin 22 Juni 2026.
Ia menilai, pernikahan dini masih menjadi salah satu tantangan yang perlu ditangani secara komprehensif melalui edukasi, pendampingan keluarga, serta peningkatan akses pendidikan hingga ke wilayah terpencil.
Menurut Faridawaty, perempuan memiliki peran penting dalam pembangunan daerah dan bangsa. Karena itu, perempuan harus diberikan ruang dan kesempatan untuk mengembangkan potensi, melanjutkan pendidikan, serta berkarya sesuai kemampuan yang dimiliki.
"Perempuan tidak hanya berperan dalam keluarga, tetapi juga dapat berkarya dan berkontribusi dalam membangun daerah maupun negeri. Oleh sebab itu, kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri harus terus didorong," katanya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat memperkuat program pendidikan, pemberdayaan perempuan, serta perlindungan anak agar angka putus sekolah dan pernikahan dini dapat ditekan.
"Dengan demikian, generasi muda Kalimantan Tengah, baik laki-laki maupun perempuan, dapat tumbuh menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing," tutupnya. (MARINI/H)









