BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Masih ingat tragedi jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 di selat Karimata 28 Desember 2014 lalu? Ya, pesawat itu mendapat musibah berawal dari ketakutan menghadapi awan cumulonimbus (Cb). Awan ini memang dinilai berbahaya.
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pangkalan Bun, Lukman Soleh pun mengonfirmasi akan bahaya awan ini. "Yang berbahaya hanya awan Cb," kata Lukman Jumat (6/1/2017)
Oveserver BMKG Pangkalan Bun, Ria Rosanti menambahkan, awan Cb juga dapat menyebabkan badai guntur, angin kencang, puting beliung, hujan lebat mendadak, dan terkadang bisa juga mengakibatkan fenomena hujan es.
"Hujan yang diakibatkan awan Cb umumnya bersifat lokal, dengan jangkauan 5-10 kilometer, dan bersifat lebat dengan tempo yang singkat," jelas dia.
Awan Cb tak hanya jadi momok bagi penerbangan. "Dampak yang terjadi di darat, seperti di beberapa waktu lalu, banyak pohon tumbang di Pangkalan Bun karena angin ribut. Penyebabnya awan Cb," lanjut Ria.
Selain awan Cb yang kerap muncul di musim penghujan ini adalah awan Altostratus (As). Awan ini umumnya menyeluruh, menutupi seluruh langit. Awan ini dapat menyebabkan hujan ringan, hingga sedang, dengan jangkauan wilayah yang luas serta tempo yang lebih lama.
"Perbedaannya kalau awan As ini hanya menimbulkan hujan dan tidak menimbulkan fenomena lain, seperti yang bisa terjadi pada awan Cb. Dampaknya tidak terlalu berbahaya seperti awan Cb," pungkas Ria. (CECEP HERDI/B-10)
Inilah Fenomena Awan yang Kerap Terjadi di Musim Hujan
Bagikan:
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Pangkoops: Dua Anggota KKB Tewas Saat Kontak Tembak di Nduga
Polisi Selidiki Pesawat Asian One Air Tergelincir di Intan Jaya
Presiden Iran Akan Bahas Ekonomi, Isu Global dengan Putin
Basarnas Evakuasi Jenazah Perempuan Diduga WNA di Pantai Nyang Nyang
Veda Ega Jadi Pembalap Indonesia Pertama yang Raih Pole Position
Varrel/Wardana Terhenti di Semifinal Indonesia Masters
Komentar (0)
Memuat komentar…







