PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Moskow - Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut masyarakat Armenia belum sepenuhnya mendukung langkah pemerintahnya untuk mempererat hubungan dengan negara-negara Barat.

Pernyataan itu disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, dalam wawancara dengan RIA Novosti.

Menurut Zakharova, dinamika politik terbaru di Armenia menunjukkan belum adanya dukungan bulat dari masyarakat terhadap kebijakan pendekatan cepat dengan Barat.

"Pemilihan umum baru-baru ini menunjukkan bahwa tidak ada dukungan yang jelas di dalam masyarakat Armenia terhadap pendekatan tergesa-gesa dengan Barat, yang, seperti yang telah banyak contohnya, harus dibayar dengan kepentingan dan identitas sendiri," kata Zakharova.

Ia menilai, sebagian masyarakat Armenia masih memiliki keinginan kuat untuk mempertahankan dan mengembangkan hubungan dengan Rusia.

Selain itu, Zakharova menyebut masih ada dorongan publik untuk menjaga keterlibatan Armenia dalam lembaga-lembaga kawasan Eurasia yang dinilai bermanfaat bagi Yerevan.

"Namun, tanggapan terhadap opini ini meningkat secara sistematis di dalam kekuatan politik yang mendukung kebijakan luar negeri semacam itu," kata Zakharova.

Zakharova juga menyinggung kelompok politik di Armenia yang secara terbuka menyebut Rusia sebagai sekutu strategis.

Menurutnya, kelompok tersebut kerap mendapat tekanan politik dan dicap sebagai pihak yang dekat dengan Kremlin.

"Mereka yang tidak malu dan tidak takut menyebut Rusia sebagai sekutu strategis, mereka dijanjikan akan tersingkir dari peta politik. Mereka, seperti yang mereka katakan, adalah agen Kremlin dan dikirim untuk mencegah penguatan kemerdekaan republik," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Zakharova juga mengecam pemimpin Armenia yang disebutnya mencoba membangun narasi bahwa Rusia menghukum Yerevan karena dianggap tidak patuh.

Ia menolak tudingan tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk manipulasi propaganda.

Sebelumnya, pada musim semi 2025, parlemen Armenia mengesahkan undang-undang yang menyatakan niat negara Kaukasus Selatan itu untuk bergabung dengan Uni Eropa.

Meski demikian, Uni Eropa hingga kini belum menawarkan keanggotaan kepada Armenia.

Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan, sebelumnya menyampaikan bahwa Yerevan memahami adanya ketidaksesuaian apabila Armenia secara bersamaan menjadi bagian dari Uni Eropa dan Uni Ekonomi Eurasia.

Namun, ia menyebut Armenia akan terus menyesuaikan kebijakan dengan kedua blok tersebut selama masih memungkinkan.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti/ANTARA