BORNEONEWS, Jakarta - Kementerian Agama mengajak masyarakat Indonesia berpartisipasi dalam Gerakan 1.448.000 Titik Verifikasi Arah Kiblat Nasional yang akan digelar pada 15-16 Juli 2026.
Kegiatan bertajuk Hari Sejuta Arah Kiblat itu menjadi bagian dari program Peaceful Muharam sekaligus momentum edukasi publik mengenai pentingnya ketepatan arah kiblat.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, mengatakan gerakan tersebut mengajak masyarakat memastikan arah kiblat secara mudah dan akurat dengan memanfaatkan fenomena alam.
“Melalui Gerakan 1.448.000 Verifikasi Arah Kiblat Nasional kami ingin mengajak masyarakat memastikan arah kiblat secara mudah dan akurat dengan memanfaatkan fenomena alam yang telah lama dikenal dalam tradisi ilmu falak,” ujar Arsad dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 23 Juni 2026.
Ia menjelaskan, kegiatan ini memanfaatkan fenomena matahari yang berada tepat di atas Kakbah. Fenomena tersebut dapat digunakan masyarakat untuk memverifikasi arah kiblat secara mandiri, serentak, dan akurat.
Menurut Arsad, fenomena astronomi yang terjadi dua kali dalam setahun itu menjadi salah satu waktu terbaik untuk mengecek arah kiblat.
“Ini adalah momentum edukasi sekaligus penguatan kualitas ibadah umat,” ujarnya.
Kegiatan ini menyasar berbagai kalangan, mulai dari penghulu, penyuluh agama Islam, pengurus masjid dan mushala, pesantren, madrasah, sekolah, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan Islam, hingga masyarakat umum.
Kemenag menargetkan sedikitnya 1.448.000 peserta dari seluruh Indonesia. Jumlah tersebut dipilih sebagai simbol tahun 1448 Hijriah yang menjadi momentum pelaksanaan gerakan nasional ini.
Kemenag juga menyiapkan pengajuan pencatatan rekor ke Museum Rekor Dunia Indonesia atau MURI atas pelaksanaan gerakan tersebut.
Arsad menyebut, arah kiblat memiliki nilai penting bagi umat Islam karena menjadi simbol persatuan dalam beribadah menghadap titik yang sama, yakni Kakbah.
Karena itu, edukasi mengenai arah kiblat perlu terus diperkuat melalui pendekatan yang sederhana, ilmiah, dan mudah dipraktikkan masyarakat.
Ia menambahkan, gerakan tersebut sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam penguatan layanan keagamaan yang berdampak, inklusif, dan berbasis kemaslahatan.
Menurutnya, pemanfaatan ilmu falak dalam kehidupan beragama menunjukkan bahwa sains dan nilai-nilai keagamaan dapat berjalan beriringan serta memberi manfaat bagi umat.
Sementara itu, Kasubdit Hisab Rukyat dan Syariah, Ismail Fahmi, menjelaskan verifikasi arah kiblat akan memanfaatkan fenomena Istiwa A’zam atau Rashdul Kiblat.
Fenomena itu terjadi ketika matahari berada tepat di atas Kakbah. Pada momen tersebut, bayangan benda yang berdiri tegak dapat digunakan sebagai penunjuk arah kiblat dengan tingkat akurasi sangat tinggi.
“Fenomena ini akan terjadi pada 15 dan 16 Juli 2026 sekitar pukul 16.27 WIB atau 17.27 WITA. Masyarakat cukup menyiapkan benda yang berdiri tegak lurus, kemudian mengamati arah bayangannya pada waktu tersebut untuk mengetahui arah kiblat,” kata Ismail.
Ia menjelaskan, metode Rashdul Kiblat merupakan salah satu cara praktis dalam ilmu falak karena dapat dilakukan tanpa alat khusus.
Masyarakat dapat melakukannya di rumah, masjid, mushala, sekolah, kampus, maupun ruang terbuka yang terkena sinar matahari langsung pada waktu pengamatan.
Ismail menambahkan, masyarakat yang ingin berpartisipasi dapat mendaftar melalui laman resmi Gerakan Indonesia Berkiblat yang disiapkan Kemenag.
Melalui platform tersebut, peserta dapat memperoleh informasi pelaksanaan kegiatan sekaligus menjadi bagian dari gerakan nasional verifikasi arah kiblat yang digelar serentak di seluruh Indonesia.
ANTARA









