SAMPIT –

BORNEONEWS,Sampit – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menunjukkan peningkatan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Namun, upaya pemadaman api terus menghadapi kendala berat berupa sulitnya mendapatkan sumber air di sekitar lokasi kebakaran.

“Kendalanya, air pemadaman tidak ada, angin kencang, lokasi sulit dijangkau,” ungkap Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur, Multazam K. Anwar, Rabu, 24 Juni 2025..

Kondisi tersebut dialami Tim Reaksi Cepat BPBD saat memadamkan kebakaran lahan di Jalan Amin Klaru, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang pada Selasa (23 Juni 2026) siang. Lokasi kebakaran yang sulit dijangkau dan minim sumber air membuat tim harus bekerja ekstra keras.

Pemadaman bergantung pada air dari parit kecil serta kendaraan roda tiga, sebab mobil tangki tidak bisa menjangkau lokasi kebakaran yang terletak sekitar 500 meter dari jalan besar tersebut.

Lahan gambut yang terbakar cukup luas, mencapai sekitar empat hektare. Api bahkan sempat membakar lantai sebuah bangunan kosong yang baru selesai dibangun di lahan tersebut. Beruntung, api berhasil dipadamkan sebelum membakar keseluruhan bangunan.

“Yang terbakar itu bangunan kosong, bagian bawah atau lantainya yang sempat terbakar. Estimasi kerugian sekitar Rp10 juta,” jelas Multazam.

Pemadaman api berlangsung selama kurang lebih 4,5 jam dengan kondisi yang cukup menantang. Angin kencang dan sumber air yang minim menyebabkan tim hanya berhasil memadamkan sekitar 75 persen atau sekitar tiga hektare dari lahan terbakar.

Pemadaman terpaksa dihentikan menjelang malam hari karena situasi tidak memungkinkan untuk melanjutkan, khususnya karena kondisi pencahayaan yang minim dan risiko keselamatan personel yang tinggi.

“Kami hentikan pemadaman karena situasi tidak memungkinkan, selain sulitnya sumber air juga tidak ada penerangan memadai, cukup berisiko bagi keselamatan petugas,” tutur Multazam.

Pemadaman akan dilanjutkan keesokan harinya dengan fokus pada pemadaman sisa api dan penyisiran kawasan untuk memastikan tidak muncul kembali kebakaran.

Multazam mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman karhutla yang mulai meningkat. Sebelumnya, kebakaran bahkan merambah hingga ke permukiman, tepat di samping rumah warga di Jalan Tidar Raya.

“Tanda-tanda alam sudah menunjukkan mulai memasuki kemarau. Kami meminta masyarakat turut membantu pemerintah untuk mencegah dan menanggulangi karhutla. Jangan sampai terjadi karhutla dan kabut asap karena dampaknya sangat buruk bagi kita semua,” pungkas Multazam.  (DEVIANA/y)