PULANG PISAU –

BORNEONEWS, Pulang Pisau – Kepedulian terhadap sesama kembali ditunjukkan sejumlah organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan di Kabupaten Pulang Pisau. Rabu sore, 24 Juni 2026. enam organisasi bersama masyarakat turun ke jalan menggelar aksi penggalangan dana untuk membantu seorang bayi laki-laki berusia 18 hari yang tengah berjuang melawan penyakit penyumbatan jantung.

Bayi tersebut saat ini masih menjalani perawatan intensif dan membutuhkan tindakan pemasangan ring jantung di rumah sakit di Surabaya. Kondisinya dikabarkan terus melemah sehingga memerlukan penanganan medis sesegera mungkin.

Ketua KNPI Pulang Pisau, Nurhelsa, mengatakan aksi kemanusiaan itu dilaksanakan di sejumlah titik strategis di Kota Pulang Pisau, yakni Bundaran Lilin, Bundaran Belah di Jalan Rai 2, Bundaran BNI, dan Bundaran Perahu.

"Hari ini juga bertepatan dengan pasar tungging, sehingga kami bersama teman-teman turun langsung ke lapangan, menyambangi toko-toko dan masyarakat dengan harapan donasi yang terkumpul bisa lebih banyak dan cepat membantu kebutuhan keluarga bayi tersebut," ujar Elsa. 

Aksi penggalangan dana melibatkan berbagai elemen, mulai dari KNPI Pulang Pisau, Hidayatullah, OSIM MAN 1 Pulang Pisau, Generasi Berencana (Genre), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pulang Pisau, Forum Anak, santri-santriwati Hidayatullah, hingga sejumlah warga yang turut tergerak membantu.

Nurhelsa menuturkan, kisah perjuangan keluarga bayi tersebut pertama kali diketahui saat kegiatan Jumat Berkah yang rutin mereka laksanakan. Saat itu, sang ibu menceritakan kondisi anaknya yang tidak dapat dibawa pulang karena harus menjalani perawatan medis.

"Anaknya masih dirawat di RSUD Doris Sylvanus Palangka Raya. Ayahnya bekerja di hutan, sementara ibunya baru selesai menjalani operasi sesar sehingga aktivitasnya sangat terbatas. Namun semangat beliau luar biasa. Bahkan beliau berjalan kaki mengurus berbagai dokumen yang diperlukan untuk proses rujukan ke Surabaya," katanya.

Bayi itu awalnya lahir di Rumah Sakit Pulang Pisau. Namun karena keterbatasan fasilitas medis, ia dirujuk ke RSUD Doris Sylvanus Palangka Raya. Setelah menjalani pemeriksaan lebih lanjut, dokter menyarankan agar tindakan pemasangan ring dilakukan di rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih lengkap di Surabaya.

Menurut Nurhelsa, kondisi bayi saat ini cukup memprihatinkan. Saat terakhir mendapat informasi dari keluarga, bayi tersebut mengalami penurunan kondisi dan harus menjalani transfusi darah.

"Kondisinya melemah dan harus transfusi darah. Karena itu kami berharap proses keberangkatan ke Surabaya bisa segera terlaksana agar penanganan medis yang dibutuhkan dapat dilakukan secepatnya," ujarnya.

Meski biaya pengobatan ditanggung melalui BPJS Kesehatan, keluarga tetap membutuhkan biaya operasional selama menjalani proses pengobatan di luar daerah. Mulai dari biaya perjalanan, kebutuhan sehari-hari, hingga pendampingan selama masa perawatan.

"Yang kami bantu adalah biaya operasional orang tua selama mendampingi anaknya berobat. Semoga bantuan dari masyarakat dapat meringankan beban mereka hingga sang bayi benar-benar dinyatakan sehat," katanya.

Penggalangan dana melalui media sosial telah dimulai sejak dua hari lalu dan berhasil mengumpulkan sekitar Rp5 juta. Sementara aksi turun ke jalan dijadwalkan berlangsung hingga 30 Juni 2026.

Nurhelsa berharap semakin banyak pihak yang tergerak membantu, baik masyarakat umum, pelaku usaha, maupun para pemangku kebijakan.

"Satu rupiah pun sangat berarti bagi keluarga ini. Kami mengajak siapa saja yang memiliki kemampuan untuk membantu. Jika tidak dalam bentuk dana, setidaknya bisa memberikan kemudahan pelayanan dan dukungan moril bagi keluarga yang sedang berjuang demi kesembuhan anak mereka," tutupnya.

Di tengah keterbatasan yang dihadapi keluarga tersebut, kepedulian berbagai organisasi dan masyarakat Pulang Pisau menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masih hidup. Harapan besar kini tertuju pada uluran tangan banyak pihak agar bayi mungil itu dapat segera memperoleh penanganan terbaik dan kembali sehat bersama keluarganya. (RETHA/H)