PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Katingan  – Di sebuah rumah sederhana yang berdiri di atas tanah miring di Kelurahan Tumbang Sanamang, Kecamatan Katingan Hulu, hidup seorang pria yang telah lama akrab dengan gelap. Namanya Suryadarma, pria kelahiran 13 Mei 1964 itu sudah delapan tahun hidup dalam keterbatasan setelah kehilangan penglihatannya. Sejak itu, hari-harinya berjalan dalam sunyi, dalam keterbatasan, dan dalam ketergantungan pada uluran tangan keluarga.

Tak banyak yang berubah di rumah kecil itu dari hari ke hari. Suryadarma, warga RT 001 RW 001 Kecamatan Katingan Hulu, hanya bisa menjalani hidup dengan kemampuan yang tersisa. Matanya tak lagi mampu menangkap cahaya, wajah, ataupun gerak orang-orang di sekitarnya. Semua bermula dari rasa gatal di mata yang semula dianggap biasa. Namun setelah dibawa berobat ke Palangka Raya, dokter menyatakan ia mengalami katarak. Sudah berobat medis namun tidak membuahkan hasil. Sejak saat itu, dunia perlahan tertutup baginya.

Buta yang dideritanya bukan hanya merampas penglihatan, tetapi juga kemampuan untuk mencari nafkah. Suryadarma mengaku tak lagi bisa bekerja seperti dulu. Hidupnya kini bergantung pada belas kasih keluarga yang setia mendampingi dan membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam keadaan seperti itu, bantuan sekecil apa pun menjadi sangat berarti.

Suasana rumahnya mendadak berbeda ketika derap langkah aparat kepolisian memasuki halaman. Kapolsek Katingan Hulu IPTU Yubambang Kusnady, S.H., bersama Ketua Bhayangkari Ranting Polsek Katingan Hulu dan jajaran, datang membawa bantuan sembako. Kunjungan itu dilakukan dalam kegiatan bantuan sosial Polsek Katingan Hulu dan Bhayangkari Ranting Polsek Katingan Hulu kepada masyarakat yang membutuhkan, dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Bhayangkara ke-80.

Di rumah yang sederhana itu, bantuan yang dibawa mungkin tak seberapa jika diukur dengan nilai materi. Namun bagi Suryadarma, kehadiran orang-orang yang datang dengan kepedulian menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Ia merasa masih diingat, masih diperhatikan, dan masih ada yang peduli terhadap hidupnya yang kini penuh keterbatasan.

Dengan suara pelan, Suryadarma menyampaikan rasa terima kasihnya kepada jajaran Polsek Katingan Hulu. Ia mengaku sudah lama tak bisa berbuat banyak untuk dirinya sendiri, apalagi untuk mencari penghasilan. Karena itu, bantuan sembako yang diberikan sangat meringankan beban hidupnya.

“Saya mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan. Saya sekarang tidak bisa mencari nafkah lagi, hanya menunggu belas kasihan keluarga. Dengan adanya bantuan dari Polsek Katingan Hulu ini, saya merasa sangat terbantu,” ucap Suryadarma saat diwawancarai BORNEONEWS, Kamis, 25 Juni 2026.

Di balik peringatan HUT Bhayangkara, kunjungan ke rumah Suryadarma menjadi gambaran bahwa kepedulian sosial tetap memiliki tempat penting di tengah tugas Kepolisian. Bagi Suryadarma, hari itu bukan sekadar menerima sembako. Hari itu adalah tentang kehadiran, perhatian, dan pengakuan bahwa dalam gelap yang telah delapan tahun ia jalani, masih ada cahaya kepedulian yang datang mengetuk pintu rumahnya.

Kapolsek Katingan Hulu, IPTU Yubambang Kusnady, S.H., mengatakan kegiatan bantuan sosial ini merupakan bentuk kepedulian Polri kepada  masyarakat yang membutuhkan, sekaligus rangkaian peringatan HUT Bhayangkara ke-80.

Menurutnya, kehadiran Polsek bersama Bhayangkari tidak hanya untuk memberikan bantuan sembako, tetapi juga mempererat silaturahmi serta memastikan bahwa keluarga besar Polri tetap saling memperhatikan.

“Kegiatan ini adalah wujud kepedulian kami kepada para purnawirawan dan warga yang membutuhkan perhatian. Dalam momentum HUT Bhayangkara ke-80, kami ingin hadir tidak hanya sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga yang saling peduli. Semoga bantuan ini bisa sedikit meringankan beban Pak Suryadarma dan menjadi penyemangat bagi beliau,” ujar IPTU Yubambang Kusnady. (MARINI/J)