BORNEONEWS, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM, Bahlil Lahadalia, mengatakan pemerintah mengupayakan penerapan kebijakan Bioetanol atau E20 untuk mengurangi impor bensin.
Menurutnya, konversi energi perlu dilakukan agar kebutuhan bahan bakar minyak tidak terus bergantung pada impor.
“Kita harus konversi untuk mengurangi impor. Kalau B50 bisa kita memenuhi kebutuhan kenapa bensin tidak,” kata Bahlil di Jakarta, Kamis, 25 Juni 2026.
Pernyataan itu disampaikan Bahlil saat memberi sambutan dalam Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun Indef 2026.
Bahlil menjelaskan kebutuhan bensin nasional saat ini mencapai sekitar 40 juta kiloliter.
Sementara itu, produksi dalam negeri baru sekitar 20 juta kiloliter sehingga masih terdapat kebutuhan impor sekitar 20 juta kiloliter.
Ia mengatakan meskipun lifting minyak dalam negeri belum mampu mencukupi seluruh kebutuhan, impor bensin tetap harus ditekan seminimal mungkin agar tidak menambah beban negara.
Karena itu, pemerintah menargetkan penerapan Bioetanol E20 dapat dijalankan pada 2028-2029.
Bahlil menyebut penerapan B50 yang sudah dapat dilakukan menjadi salah satu contoh bahwa kebijakan campuran bahan bakar nabati mampu membantu menekan impor.
“Dari 20 juta kiloliter bensin dan nanti kita terapkan E20, berarti tinggal 16 juta. Tinggal kita dorong bagaimana bisa meningkatkan lifting untuk menghasilkan bensin,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejumlah negara telah lebih dulu menggunakan bioetanol untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak.
Negara tersebut antara lain Amerika Serikat, Brasil, dan beberapa negara lainnya.
“Amerika, Brasil dan beberapa negara lain sudah menerapkan. Tujuannya apa? Agar kita bisa mengurangi impor supaya devisa kita itu tidak keluar,” katanya.
Sebelumnya, Bahlil juga menyampaikan pemerintah tengah berupaya meningkatkan produksi minyak mentah atau lifting dalam negeri.
Upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
“Ada tiga pendekatan yang akan kita lakukan untuk meningkatkan lifting minyak,” kata Bahlil.
Kementerian ESDM berupaya meningkatkan lifting minyak melalui sejumlah langkah, antara lain penggunaan teknologi dan menghidupkan kembali Plan of Development atau PoD yang sempat mangkrak.
Selain itu, pemerintah juga kembali mendorong kegiatan eksplorasi agar cadangan minyak mentah nasional dapat bertambah.
“Mau tidak mau kita melakukan eksplorasi. Kita punya sekitar 120 potensi sumur yang sekarang sudah melakukan tender eksplorasi,” katanya.
ANTARA









