BORNEONEWS, Puruk Cahu - Semakin membaiknya harga jual komoditas karet yang saat ini menyentuh Rp8 ribu per kilogram menjadi angin segar bagi para patani di Kabupaten Murung Raya (Mura). Banyak petani yang semula vakum menyadap karet kini kembali bergairah menggeluti usaha perkebunan tersebut.
Norhasan contohnya, warga Kelurahan Puruk Cahu Seberang ini mengaku setelah mendengar harga karet mengalami kenaikan pada akhir tahun 2016 langsung memutuskan kembali menggeluti profesi menyadap karet.
"Kurang lebih sekitar dua tahun saya vakum tidak menyadap karet sebab harganya saat itu hanya berputar dikisaran harga Rp 4 ribu sampai Rp 5 per kilonya," tambahnya, Jumat (6/1/2017).
Disampaikannya lagi menurut kabar yang diterimanya harga karet kemungkinan besar akan bergairah kelevel lebih tinggi, sehingga sangat sayang untuk melewatkan kesempatan saat harga sudah berangsur membaik seperti sekarang ini.
Sementara itu Udin, salah seorang pengepul karet mengatakan dalam menerima hasil sadapan karet para patani diri tidak asal terima dan terlebih dahulu memeriksa kualitas yang akan dirinya beli tersebut.
"Cenderung banyak banyak karet yang didalamnya terdapat sampah kayu dan tentu bila ditemukan sampah kayu maka dipastikan harga akan sedikit miring," ungkapnya.
"Yang terdapat sampah kayu saya barani beli sekitar harga Rp 7 ribu saja dan bila bersih karetnya bisa mencapai Rp 8 ribu per kilogramnya," tambah Udin lagi. (SUPRI ADI/N).








