SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Asap tipis membumbung dari deretan panci yang berjajar di halaman sebuah rumah di Jalan Ir H Juanda, Sampit, Kamis, 25 Juni 2026.

Di bawah terik matahari, sejumlah pria bergantian mengaduk bubur menggunakan pengaduk kayu sepanjang hampir dua meter.

Tak jauh dari sana, para ibu sibuk memotong sayuran, membersihkan bahan masakan, hingga menyiapkan bumbu yang akan dimasukkan ke dalam adonan bubur.

Suasana gotong royong itu bukan sekadar aktivitas memasak biasa. Mereka sedang menyiapkan Bubur Asyura, tradisi tahunan yang selalu hadir setiap tanggal 10 Muharram dan terus dipertahankan oleh masyarakat Sampit dari generasi ke generasi.

Sebanyak 110 kilogram bahan disiapkan tahun ini. Bubur dimasak menggunakan 20 panci besar dalam dua tahap. Setiap sesi memasak membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam hingga bubur benar-benar matang dan siap dibagikan.

Di tengah kesibukan tersebut, Yunus, salah satu warga yang aktif menggerakkan tradisi itu, mengatakan Bubur Asyura bukanlah ritual keagamaan yang diwajibkan, melainkan tradisi yang sarat makna kebersamaan dan sedekah.

"Hari ini kami memasak Bubur Asyura untuk memperingati 10 Muharram. Ini bukan perintah agama, tetapi tradisi yang sudah lama dilakukan masyarakat muslim. Setelah selesai dimasak, bubur akan dibagikan kepada warga yang berpuasa Asyura, masyarakat sekitar, dan juga pesantren," ujarnya.

Tradisi itu telah hidup sejak puluhan tahun lalu. Dahulu, warga sekitar Jalan Juanda memasak bubur di rumah masing-masing sebelum dibagikan kepada tetangga. Namun seiring waktu muncul keinginan untuk melakukannya secara bersama-sama agar suasana kebersamaan semakin terasa.

"Kalau dulu setiap keluarga memasak sendiri-sendiri kemudian dibagikan kepada tetangga sekitar. Lalu mulai tahun 2005 dihidupkan dengan memasak bersama atau gotong royong. Kita masak bersama dalam jumlah besar lalu dibagikan kepada masyarakat. Sampai sekarang tradisi ini terus berjalan setiap tahun," katanya.

Bagi warga setempat, Bubur Asyura bukan hanya soal makanan. Di balik setiap sendok bubur yang dibagikan tersimpan nilai persaudaraan, silaturahmi, dan kepedulian sosial.

"Esensinya adalah mempererat ukhuwah Islamiyah, menjaga keakraban antarwarga, dan berbagi rezeki melalui sedekah," tambah Yunus.

Keistimewaan Bubur Asyura juga terletak pada bahan-bahannya. Jika bubur biasa hanya menggunakan beberapa komponen utama, Bubur Asyura dikenal kaya akan campuran bahan.

Dalam tradisi masyarakat Sampit, bubur ini umumnya diracik menggunakan 41 jenis bahan dan rempah-rempah, mulai dari berbagai sayuran dan lainnya.

Seluruh biaya pembuatan berasal dari sumbangan warga. Setelah matang, ribuan porsi bubur dibagikan secara gratis kepada masyarakat yang datang mengantre selepas Asyar.

Antusiasme warga terlihat dari panjangnya antrean yang mulai terbentuk sebelum pembagian dimulai. Anak-anak, orang dewasa hingga lansia membawa wadah masing-masing untuk mendapatkan bagian bubur.

Di antara mereka terdapat Nurhayati. Perempuan itu mengaku sudah puluhan tahun rela berdesakan datang untuk mengambil Bubur Asyura. Menurutnya, selain rasanya yang lezat, tradisi tersebut juga diyakini membawa keberkahan.

"Kami mengambil berkahnya. Kalau makan Bubur Asyura, mudah-mudahan diberi umur panjang dan rezeki yang baik. Setiap tahun saya selalu ikut mengantre," kata Nurhayati.

Nurhayati menuturkan, pada hari yang sama pembagian Bubur Asyura juga dilakukan di Masjid Kota Al Madinatul Mubarokah dengan jumlah sekitar 150 kilogram.

Baginya, kandungan berbagai sayuran dan rempah dalam Bubur Asyura membuat makanan itu tidak hanya kaya cita rasa, tetapi juga menyehatkan.

"Isinya banyak sekali, ada puluhan macam sayur dan rempah. Jadi banyak vitaminnya. Semoga tradisi ini terus ada sepanjang masa," ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Darma, warga lainnya yang sudah tiga tahun terakhir rutin mengantre Bubur Asyura. Menurutnya, tradisi tersebut menjadi pengingat pentingnya berbagi kepada sesama.

"Maknanya saling berbagi dan memperingati 10 Muharram. Semoga diberi kesehatan dan keberkahan. Mudah-mudahan ke depan lebih meriah lagi," katanya. 

Bubur Asyura yang diaduk sejak pukul 08.30 WIB hingga 15.00 WIB tersebut pun sekejap habis menjadi rebutan warga dalam waktu kurang dari satu jam. (DEWI PATMALASARI/R)