PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Tonggak baru hilirisasi komoditas perkebunan kembali tercatat di Sumatera Utara. Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDP bersama ASPEKPIR Indonesia resmi melepas ekspor perdana lidi sawit sebanyak 28 ton ke Tiongkok, dalam kegiatan yang digelar di gudang PT Arra Setya Abadi di Belawan, Medan.

Produk lidi sawit yang diberangkatkan tersebut berasal dari perkebunan di Riau, Sumatera Utara, dan Aceh. Seluruhnya merupakan hasil pengumpulan petani sawit, pelaku UMKM, serta koperasi anggota ASPEKPIR yang sebelumnya telah mendapat pendampingan melalui program pemberdayaan bersama BPDP. Ekspor ini turut melibatkan PT Arra Setya Abadi sebagai mitra eksportir yang menghubungkan produk lokal ke pasar global, khususnya Tiongkok.

Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP melalui pernyataan tertulis yang dibacakan Anwar Sadat menegaskan bahwa pengembangan lidi sawit merupakan bagian dari upaya panjang mendorong nilai tambah produk turunan sawit. Sejak 2024, BPDP bersama ASPEKPIR telah menggelar berbagai workshop di sejumlah daerah seperti Siak, Kampar, Bengkalis, Muaro Jambi, Belitung Timur, hingga Pasangkayu untuk memperkuat kapasitas produksi dan standar ekspor petani.

“Lidi sawit bukan hanya limbah, tetapi memiliki potensi ekonomi yang besar sebagai bahan baku ekspor maupun produk kerajinan UMKM,” ujarnya dalam rilis BPDP pada Jumat, 26 Juni 2026.

Ia menambahkan, keberhasilan ekspor ini menjadi bukti nyata bahwa sektor sawit bersifat inklusif karena melibatkan petani, koperasi, perempuan, hingga pelaku usaha kecil di daerah.

Ketua Umum ASPEKPIR, Setiyono, menyebut sedikitnya tujuh koperasi terlibat dalam rantai produksi ekspor kali ini dengan manfaat ekonomi yang menjangkau sekitar 2.800 anggota koperasi. Menurutnya, keterlibatan petani dalam rantai pasok memberikan peluang baru sebagai sumber pendapatan tambahan di luar komoditas utama sawit.

Dari sisi pasar, Direktur Utama PT Arra Setya Abadi, Ilham Setiadi, menyebut permintaan lidi sawit di pasar internasional terus menunjukkan tren positif. Kondisi ini membuka peluang besar bagi petani dan UMKM untuk memperluas usaha berbasis limbah perkebunan secara berkelanjutan.

Pemerintah daerah turut memberikan apresiasi atas capaian tersebut. Perwakilan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumatera Utara, Tsarwah, menilai keberhasilan ekspor ini menjadi contoh nyata pemanfaatan limbah pertanian yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus mendorong ekonomi sirkular di sektor perkebunan.

Selain pelepasan ekspor, BPDP dan ASPEKPIR juga menggelar workshop praktik ekspor di Langkat, Sumatera Utara. Dalam kegiatan tersebut, dilakukan penandatanganan kerja sama antara koperasi sawit dan pelaku ekspor untuk memperkuat produksi lidi sawit berstandar internasional.

Ekspor perdana ini sekaligus menegaskan posisi sawit sebagai komoditas strategis yang tidak hanya bertumpu pada produk utama, tetapi juga mampu melahirkan sumber ekonomi baru dari pemanfaatan limbah, sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan dan penguatan ekonomi daerah. (TESTI PRISCILLA/H)