"PADAHAL itu sudah ada di beritanya."
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, justru itulah yang beberapa kali terjadi. Di sebuah grup WhatsApp, seorang warga mempertanyakan informasi yang sebenarnya telah dijelaskan secara lengkap dalam sebuah berita. Jawabannya ada. Faktanya ada. Konteksnya juga ada. Hanya saja, naskah itu belum benar-benar dibaca.
Peristiwa lain bahkan lebih menarik. Sebuah pemberitaan sempat memicu cekcok pasangan suami istri. Sang istri merasa suaminya menjadi sosok yang dimaksud dalam berita. Ia merasa tersudutkan. Padahal, jika naskah dibaca hingga tuntas, tidak ada satu pun bagian yang mengarah pada identitas mereka. Nama disamarkan, identitas dihilangkan, bahkan sejumlah detail sengaja tidak ditampilkan demi menjaga privasi. Yang bekerja justru bukan isi berita, melainkan asumsi.
Pengalaman-pengalaman semacam itu memunculkan satu pertanyaan sederhana: benarkah masyarakat hari ini kekurangan informasi? Atau justru yang mulai berkurang adalah kemauan untuk membaca informasi secara utuh?
Selama lebih dari dua tahun mengamati kehidupan masyarakat Kabupaten Kapuas, khususnya Kuala Kapuas, sulit rasanya untuk tidak mengagumi karakter sosial warganya. Ketika musibah datang, bantuan sering hadir tanpa diminta. Ketika tetangga membutuhkan pertolongan, banyak tangan terulur lebih dulu sebelum pertanyaan diajukan. Adab dalam bertutur dan bergaul pun masih terasa kuat, dipengaruhi nilai-nilai religius yang hidup dalam keseharian masyarakat.
Namun, di tengah kuatnya modal sosial itu, masih tampak satu ruang yang perlu terus diperkuat, yakni budaya literasi. Bukan soal bisa atau tidak bisa membaca, melainkan kesediaan meluangkan beberapa menit untuk memahami isi sebuah informasi sebelum memberikan penilaian. Sebab membaca judul tidak sama dengan memahami berita. Membaca potongan tangkapan layar juga tidak sama dengan mengetahui keseluruhan persoalan.
Ironisnya, semakin cepat informasi beredar, semakin sering konteks tertinggal. Orang berebut menjadi yang pertama berkomentar, tetapi belum tentu menjadi yang pertama memahami. Akibatnya, pertanyaan yang jawabannya sudah tersedia kembali muncul. Kesimpulan yang tidak pernah ditulis justru dianggap sebagai isi berita. Bahkan, tidak sedikit perdebatan lahir bukan karena fakta yang berbeda, melainkan karena konteks yang tidak pernah dibaca.
Padahal, konteks adalah nyawa dari sebuah informasi. Satu kalimat dapat memiliki makna yang berbeda ketika dipisahkan dari paragraf sebelumnya. Satu kutipan bisa menyesatkan ketika dilepaskan dari keseluruhan cerita. Karena itu, membaca sampai selesai bukan sekadar kebiasaan yang baik, melainkan bentuk tanggung jawab sebagai pembaca.
Kapuas sesungguhnya memiliki modal yang sangat kuat untuk itu. Kepedulian sosial, budaya gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Tinggal satu mata rantai yang perlu terus diperkuat: menjadikan membaca sebagai kebiasaan, bukan sekadar formalitas. Sebab masyarakat yang gemar membaca bukan hanya lebih sulit disesatkan oleh informasi, tetapi juga lebih bijak dalam menyikapi setiap persoalan yang hadir di ruang publik.
Penulis: Sabrianoor, wartawan bornonews.co.id









