PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Fenomena kasus bunuh diri di Kota Palangka Raya dinilai semakin mengkhawatirkan. Sepanjang periode Januari hingga mendekati akhir Juni 2026, Tim Emergency Response (ERP) Palangka Raya mencatat sedikitnya enam peristiwa tragis yang terjadi.

Sebagian besar kasus diduga dipicu oleh faktor tekanan ekonomi, jeratan utang piutang, hingga persoalan hubungan asmara.

Pelaksana Harian Ketua ERP Palangka Raya, Christian Tito, menegaskan bahwa seluruh peristiwa tersebut ditangani langsung oleh timnya bersama Rescue LazisMU Kalteng dan Emergency Fatmawati setelah menerima laporan dari masyarakat maupun kepolisian.

Ia menekankan bahwa setiap kasus memiliki latar belakang yang kompleks dan tidak dapat disamaratakan satu sama lain.

“Dalam enam bulan terakhir, kami menangani enam kasus. Polanya bervariasi, namun muaranya adalah akumulasi tekanan hidup yang tidak mendapatkan ruang penyelesaian. Kami menyerahkan penyelidikan akhir terkait motif secara resmi kepada aparat penegak hukum,” ujar Christian Tito didampingi Kepala Bagian Operasional ERP, Yustinus Exaudi, Jumat, 26 Juni 2026.

Berdasarkan data yang dihimpun, tren kasus ini sempat memuncak di awal tahun, kemudian mereda, dan kembali mencuat pada pertengahan Juni 2026.

Berurutan dari awal Januari hingga Juni, kasus terjadi di berbagai lokasi: seorang pria terindikasi tunawisma, pekerja bangunan, karyawan swalayan, mahasiswa keperawatan, mahasiswa sekaligus pekerja ritel, hingga seorang kepala keluarga muda yang diduga terjebak himpitan ekonomi.

Merespons kondisi ini, ERP mengajak kesadaran bersama antara masyarakat dan pemerintah daerah.

Tingginya angka kejadian ini dinilai sebagai peringatan keras bahwa isu kesehatan mental serta jaring pengaman sosial di Palangka Raya memerlukan penanganan yang lebih serius dan terpadu.

“Masyarakat harus sadar bahwa mereka tidak berjalan sendirian. Kami mengimbau siapa pun yang sedang merasakan tekanan berat untuk membuka diri kepada keluarga, sahabat, atau tokoh agama. Komunikasi sejak dini adalah kunci utama memutus keputusan yang fatal,” tegas Christian.

Senada dengan hal itu, Yustinus Exaudi menekankan pentingnya deteksi dini di lingkungan terdekat. Masyarakat diminta tidak mengabaikan perubahan perilaku atau tanda-tanda tertekan yang ditunjukkan oleh orang-orang di sekitarnya.

“Kepedulian lingkungan bisa menyelamatkan nyawa. Jika ada yang membutuhkan bantuan, segera hubungi pihak yang dapat memberikan pertolongan profesional,” pungkasnya. (PATHUR/j)