BORNEONEWS Palangka Raya – Kota Palangka Raya sedang menghadapi krisis kedaruratan psikologis yang mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu hanya satu pekan, tiga nyawa melayang akibat peristiwa gantung diri yang terjadi beruntun di lokasi berbeda.
Fenomena ini memicu alarm merah mengenai rapuhnya ketahanan mental masyarakat di tengah tekanan sosial, ekonomi, dan asmara.
Tragedi beruntun ini mendapat perhatian serius dari dunia medis. Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, dr. Dina Elizabeth Sinaga, Sp.KJ, menyatakan bahwa kejadian ini tidak boleh dipandang sebelah mata sebagai kasus biasa.
"Secara psikologis, ini merupakan bentuk kedaruratan psikiatrik nyata yang bersumber dari akumulasi konflik internal maupun eksternal," tegasnya, Jumat, 26 Juni 2026.
Ia menggarisbawahi pentingnya kesadaran terhadap kondisi mental sendiri. Masyarakat harus peka terhadap tanda-tanda tidak baik-baik saja, seperti gangguan tidur kronis, pikiran obsesif, perasaan tidak berdaya, merasa bersalah, hingga pandangan suram terhadap masa depan dan keinginan menyakiti diri sendiri. Jika tanda-tanda ini muncul, ia mengimbau untuk segera berkonsultasi dengan profesional.
Sebagai langkah konkret memutus rantai krisis, Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Kalawa Atei memaksimalkan fungsi Hotline Bunuh Diri "Suara Jiwa" di nomor 081152100000.
Saluran darurat ini disiapkan sebagai ruang aman bagi siapa saja yang berada di titik terendah hidupnya.
"Melalui nomor tersebut, masyarakat akan langsung dilayani oleh tenaga profesional yang siap memberikan penanganan psikologis darurat, bimbingan klinis, dan arahan medis guna mencegah tindakan fatal," tutup dr. Dina. (PATHUR/j)









