JAKARTA –

BORNEONEWS, Yogyakarta – Guru besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta atau UMY, Prof. Akif Khilmiyah, menilai literasi seksualitas sejak dini penting ditanamkan sebagai upaya pencegahan kekerasan seksual.

Menurutnya, pendidikan tersebut dapat diberikan melalui pendekatan nilai-nilai Islam agar anak dan remaja memahami cara menjaga diri, menghormati orang lain, serta mengenali batasan dalam berinteraksi.

Prof. Akif mengatakan pendidikan seks masih kerap dianggap tabu di tengah masyarakat.

Padahal, minimnya pemahaman justru dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap berbagai bentuk kekerasan seksual.

“Pendidikan seks bukan bertujuan mengajarkan perilaku seksual, melainkan membekali seseorang agar mampu menjaga diri, menghormati orang lain, serta memahami batasan dalam berinteraksi agar terhindar dari kekerasan,” kata Prof. Akif di Yogyakarta, Jumat, 26 Juni 2026.

Ia menjelaskan, literasi seksualitas dalam perspektif Islam tidak hanya berkaitan dengan aspek biologis reproduksi.

Lebih dari itu, pendidikan tersebut juga mencakup penanaman nilai moral, tanggung jawab, rasa malu atau haya’, serta penghormatan terhadap martabat manusia.

Menurutnya, pemahaman tersebut diperlukan agar peserta didik mampu membedakan interaksi yang sehat dengan perilaku yang mengarah pada pelecehan maupun eksploitasi.

Prof. Akif juga menyoroti praktik grooming atau manipulasi psikologis oleh pelaku kekerasan seksual.

Praktik tersebut sering diawali dengan membangun kedekatan sehingga korban sulit menyadari adanya bahaya.

Karena itu, edukasi perlu diberikan secara bertahap sejak lingkungan keluarga hingga jenjang pendidikan tinggi.

“Anak-anak dan remaja perlu memahami bahwa tidak semua perhatian memiliki niat tulus. Mereka harus mampu mengenali tanda-tanda manipulasi agar tidak mudah menjadi korban,” katanya.

Dalam perspektif psikologi Islam, literasi seksualitas bertujuan membentuk pengendalian diri melalui keseimbangan antara akal, nafsu, dan hati.

Pembinaan nilai agama dinilai menjadi kunci agar seseorang mampu mengendalikan dorongan yang berpotensi mengarah pada perilaku menyimpang.

Prof. Akif menambahkan, penguatan literasi seksualitas perlu berjalan seiring dengan pembentukan karakter Islami.

Karakter tersebut mencakup nilai amanah, ihsan, serta kesadaran akan pengawasan Tuhan dalam setiap tindakan.

“Kita perlu menanamkan rasa malu, amanah, dan ihsan sejak dini. Ketika pendidikan, karakter, dan nilai spiritual berjalan bersama, itulah benteng terkuat untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual, baik agar seseorang tidak menjadi korban maupun tidak menjadi pelaku,” katanya.

ANTARA