JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Chistie mengajak perguruan tinggi untuk menjadi fondasi yang kokoh di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial.

"Saat ini, AI (Artificial Intelligence) kerap diposisikan sebagai solusi atas berbagai persoalan, mulai dari kesehatan, sains, bisnis, hingga pendidikan. Namun, pemanfaatannya perlu disikapi secara bijaksana dan berbasis pertimbangan ilmiah, agar teknologi tersebut dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat," katanya dalam keterangan di Jakarta, Jumat.

Ia menekankan bahwa perguruan tinggi, sains, dan teknologi merupakan fondasi penting bagi pembangunan nasional yang berkelanjutan serta peningkatan daya saing bangsa.

Perkembangan AI, katanya, mendorong perguruan tinggi menemukan model dan cara kerja baru agar tetap relevan di tengah perubahan teknologi yang cepat.

Ia mengatakan perguruan tinggi tidak mungkin mengabaikan kehadiran AI, tetapi juga tidak dapat membatasi seluruh peran hanya pada teknologi tersebut.

Pakar psikologi kognitif itu, juga menekankan perguruan tinggi harus memiliki tiga fungsi utama, yakni menciptakan pengetahuan, mentransmisikan pengetahuan melalui pendidikan, dan mengelola pengetahuan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat yang sejalan dengan pelaksanaan tri darma perguruan tinggi.

Wamen Stella juga menyoroti pentingnya mendefinisikan kembali tujuan pendidikan tinggi di era AI.

Kemudahan memperoleh informasi melalui teknologi, ucap dia, tidak mengurangi pentingnya peran universitas dalam membentuk kapasitas intelektual dan cara berpikir ilmiah.

Ia menambahkan pendidikan tinggi tidak hanya berfokus pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada bagaimana pengetahuan diciptakan serta bagaimana sains dijalankan.

"Banyak hal yang saya pelajari bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi bagaimana melakukan sains, bukan hanya apa yang diketahui, tetapi bagaimana melakukannya," ucap Stella Christie.

ANTARA