BORNEONEWS, Kuala Kurun – Pemerintah Kabupaten Gunung Mas menjadikan Desa Karya Bakti, Kecamatan Rungan, sebagai desa percontohan pelaksanaan program Ketahanan Pangan Keluarga Terpadu atau Kapakat.
Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan atau DPKP Gunung Mas, Eigh Manto, mengatakan Karya Bhakti dipilih setelah melalui komunikasi, diskusi, serta kesepakatan dengan masyarakat dan pemangku kepentingan setempat.
“Karya Bakti dipilih sebagai desa percontohan setelah melalui komunikasi, diskusi, serta kesepakatan dengan masyarakat dan pemangku kepentingan setempat,” kata Eigh Manto saat dihubungi di Kuala Kurun, Sabtu, 27 Juni 2026.
Kapakat merupakan program inovasi yang menyinergikan kegiatan lintas bidang dengan fokus pemberdayaan berbasis keluarga sebagai organisasi terkecil dalam masyarakat.
Program tersebut dirancang sejak 2025 dan mulai diimplementasikan pada 2026.
Dalam pelaksanaan Kapakat di Desa Karya Bhakti, pemerintah telah menyerahkan bantuan benih ikan, sayuran, dan buah kepada Kelompok Budi Daya Ikan atau Pokdakan Wanita Mandiri Karya Bhakti.
Bantuan benih ikan yang diserahkan terdiri atas gurami ukuran 3 sampai 4 sentimeter sebanyak 2.250 ekor dan nila ukuran 3 sampai 5 sentimeter sebanyak 9.000 ekor.
Bantuan itu dilengkapi pakan benih sebanyak 150 kilogram dan pakan lanjutan 450 kilogram.
Untuk benih sayuran, bantuan yang diberikan meliputi kangkung, bayam, jagung manis, lombok, terong, mentimun, dan kacang panjang.
Selain itu, turut diserahkan benih buah pepaya untuk dikembangkan anggota pokdakan.
Bantuan tersebut juga dilengkapi pupuk kandang 15 sak, pupuk NPK 10 bungkus, pupuk urea lima bungkus, serta pupuk organik cair tiga botol.
Eigh menjelaskan, pemilihan komoditas yang beragam dilakukan secara sengaja.
Strategi itu bertujuan agar hasil panen tidak terjadi secara serentak sehingga tidak memicu penurunan harga.
Selain itu, keragaman komoditas juga menjadi bagian dari evaluasi untuk mengetahui jenis tanaman dan ikan yang paling cocok dikembangkan di Karya Bhakti.
Untuk komoditas ikan, nila dan gurami menjadi andalan karena memiliki nilai ekonomi tinggi serta berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.
Nila dipilih karena masa pemeliharaannya relatif pendek dan perawatannya lebih mudah.
Sementara itu, gurami dinilai cocok untuk pengembangan jangka panjang.
Konsep Kapakat dirancang secara terintegrasi dengan memanfaatkan pekarangan keluarga.
Air kolam ikan, misalnya, dapat digunakan untuk menyiram tanaman sayuran di pekarangan sehingga tercipta pola pengelolaan yang saling mendukung dan berkelanjutan.
Program ini juga menjadi penjabaran dari program nasional ketahanan pangan mandiri.
Selain itu, Kapakat mendukung Program Huma Betang dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Program Tambun Bungai Mandiri dari Pemkab Gunung Mas.
Hal menarik dari pelaksanaan Kapakat di Karya Bakti adalah kelompok budi daya ikan yang menjadi pelaksana program merupakan para ibu.
Dengan demikian, program ini juga turut mendukung pengarusutamaan gender di tingkat desa.
Sejumlah kegiatan Kapakat telah berjalan di Karya Bakti sejak Mei 2026.
Kegiatan itu meliputi sosialisasi Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan atau Gemarikan, Gerakan Pangan Murah atau GPM, demo masak diversifikasi hasil perikanan, serta penyerahan bantuan peralatan memasak.
Selain itu, juga dilakukan sosialisasi konsumsi pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman atau B2SA berbasis pangan lokal untuk mencegah stunting.
Kegiatan tersebut dilaksanakan bersamaan dengan pemberian benih, pakan, dan pupuk.
“Harapannya, mereka dapat mencukupi kebutuhan pangan secara mandiri, menekan pengeluaran keluarga, bahkan memperoleh sumber pendapatan baru,” jelas Eigh.
Ketua Pokdakan Wanita Mandiri Karya Bakti, Juliati, mengaku senang dan terbantu dengan bantuan yang diterima kelompoknya.
Kelompok tersebut beranggotakan 15 orang dan sebagian besar merupakan ibu rumah tangga.
“Kami membudidayakan ikan sambil bertani, sehingga bantuan benih ikan, sayuran, dan buah dari DPKP Gumas sejalan dengan aktivitas yang kami jalani,” sebut Juliati.









