PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Semangat melayani dan bersaksi sesuai talenta masing-masing menjadi harapan yang disampaikan Ketua SPPer GKE Ewanggelion, Yuliati Eka Asi, saat menyambut peserta Ibadah dan Pelatihan Produk Sabun UMKM Komisi Pelayanan Perempuan (KPPer) Resort GKE Palangka Raya di Gereja Ewanggelion pada Sabtu, 27 Juni 2026.

"Harapan kami bahwa kita tetap semangat melayani dan bersaksi sesuai dengan talenta kita masing-masing. Sukacita kami pada bulan Juni ini kami menjadi tuan rumah ibadah dan ada keterampilan yang disiapkan sehingga dapat terlaksana dengan baik," ujar Yuli.

Kegiatan yang mengusung tema "Perempuan yang Diperbarui dalam Kristus untuk Bersaksi dan Melayani" tersebut diikuti ibu-ibu dari sepuluh gereja di bawah naungan KPPer Resort GKE Palangka Raya. Selain ibadah bersama, peserta juga mendapatkan pelatihan pembuatan produk sabun ramah lingkungan bertajuk "Meracik Kebaikan Alam di Dapur Sendiri" yang dibawakan oleh pemateri dari Komunitas Eco Enzyme Katingan, Markurius Abednegoe.

Ketua KPPer Resort GKE Palangka Raya, Yanarita Baddak, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda rutin bulanan yang tidak hanya berfokus pada pembinaan rohani, tetapi juga pemberdayaan perempuan melalui peningkatan keterampilan.

Menurutnya, pelatihan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi anggota untuk mengembangkan usaha kecil yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber pendanaan pelayanan KPPer Resort GKE Palangka Raya.

Dalam sesi pelatihan, Markurius mengajak peserta lebih kritis terhadap produk pembersih rumah tangga yang digunakan setiap hari. Ia menilai masih banyak produsen yang belum mencantumkan seluruh kandungan bahan kimia secara transparan pada kemasan.

"Sebanyak 80 persen pekerjaan rumah tangga dieksekusi oleh perempuan. Artinya, tangan perempuan menjadi tameng pertama yang terpapar berbagai bahan kimia dari produk pembersih," katanya.

Ia menjelaskan sejumlah kandungan seperti 1,4-Dioxane, Sodium Lauryl Sulfate (SLS), bleach, fosfat, dan EDTA memiliki potensi memberikan dampak terhadap kesehatan maupun lingkungan apabila digunakan secara berlebihan.

Sebagai alternatif, Markurius memperkenalkan konsep Sabun Eco Hybrid, yakni perpaduan bahan alami dan sains modern. Menurutnya, produk tersebut menggunakan surfaktan berbasis tumbuhan yang dipadukan dengan ekstrak alami dan enzim aktif sehingga tetap efektif mengangkat lemak, lembut di tangan, serta lebih aman bagi lingkungan.

Selain itu, ia juga memperkenalkan Eco Enzyme, cairan hasil fermentasi limbah organik dapur yang memiliki banyak manfaat untuk kebutuhan rumah tangga, perawatan dan kesehatan, mendukung hidup berkelanjutan, menjaga lingkungan mikro, hingga dimanfaatkan di sektor pertanian dan peternakan.

Melalui perpaduan pembinaan iman dan pelatihan keterampilan tersebut, penyelenggara berharap perempuan gereja semakin mampu mengembangkan talenta yang dimiliki, baik dalam pelayanan maupun dalam menciptakan peluang ekonomi yang bermanfaat bagi keluarga, gereja, dan lingkungan sekitar.

Kegiatan turut dihadiri Ketua MPH Jemaat GKE Ewanggelion Pdt Eva Yulianty dan pendeta pelayanan Pdt Rizki Indriyana. (TESTI PRISCILLA/j)