JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Penyakit rematik jantung dapat menyebabkan kebocoran maupun penyempitan katup jantung.

Hal tersebut disampaikan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan intervensi dan konsultan aritmia, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, dalam acara Primaya Hospital Kelapa Gading di Jakarta, Sabtu, 27 Juni 2026.

“Jadi biasanya di umur-umur 30-an itu katupnya bocor atau katupnya menyempit akibat penyakit rematik jantung yang diderita pada saat usia remaja,” katanya.

Penyakit rematik jantung merupakan komplikasi dari demam rematik akut akibat infeksi bakteri Streptococcus.

Berdasarkan informasi di laman resmi Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, infeksi tersebut dapat menyebabkan radang tenggorokan atau faringitis apabila tidak mendapat penanganan yang adekuat.

Prof. Yoga mengingatkan orang tua agar tidak mengabaikan infeksi saluran napas pada anak, terutama bila disertai nyeri saat menelan.

“Jadi, kalau punya anak-anak infeksi saluran nafas, nyeri nelen, riaknya hijau, harus segera diobati, karena kalau enggak, kalau itu kumannya Streptococcus hemolyticus tipe B namanya, itu menyerang jantung, si racunnya itu,” kata Prof. Yoga.

Guru besar kardiologi dan aritmia di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menjelaskan, kerusakan pada jantung tidak selalu langsung terlihat saat infeksi terjadi.

Dampaknya bisa muncul bertahun-tahun kemudian.

“Jantungnya enggak rusak saat itu, rusaknya nanti, 10 sampai 15 tahun kemudian,” ujarnya.

Jantung manusia memiliki empat katup, yaitu katup trikuspid, katup mitral, katup aorta, dan katup pulmonal.

Gangguan pada katup jantung dapat berupa katup yang terlalu rapat sehingga sulit terbuka maupun kebocoran katup.

Selain penyakit rematik jantung, masalah katup jantung juga dapat dipicu oleh gangguan irama jantung.

Salah satunya fibrilasi atrium yang berlangsung lama dan dapat menyebabkan kerusakan katup.

Prof. Yoga juga menyebut kondisi seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas dapat memicu penyakit jantung lain yang berisiko menimbulkan gangguan pada katup jantung.

Karena itu, pencegahan penyakit jantung perlu dilakukan dengan menjaga tekanan darah tetap normal, mengendalikan diabetes, menghindari obesitas, dan tidak merokok.

“Kita mencegah penyakit jantung lainnya itu, gangguan irama jantung, yang itu dijaga tensinya supaya normal, jangan sampai obesitas, enggak merokok, diabetesnya dijaga, seperti itu,” katanya.

ANTARA