BORNEONEWS, Palangka Raya - Enam karyawan pemupukan PT Sepalar Yasa Kartika diduga mengalami paparan herbisida saat menjalankan aktivitas di areal perkebunan pada Rabu, 24 Juni 2026. Meski kegiatan penyemprotan dan pemupukan dilakukan di blok yang berbeda, paparan diduga terjadi akibat herbisida yang terbawa embusan angin. Tiga pekerja hingga kini masih menjalani perawatan di RSUD Muara Teweh.
Perwakilan manajemen PT Sepalar Yasa Kartika, Jono Maryanto menjelaskan peristiwa itu bermula ketika perusahaan menjadwalkan dua aktivitas operasional rutin, yakni pemupukan di Blok N45 dan penyemprotan gawangan chemist di Blok M45.
Ia menegaskan kedua pekerjaan tersebut dilakukan di lokasi atau blok yang berbeda, bukan pada areal yang sama. Berdasarkan kondisi cuaca pada pagi hari yang cerah, kedua aktivitas dinilai aman untuk dilaksanakan. Selain itu, seluruh pekerja, baik tim pemupukan maupun penyemprotan, telah dibekali dan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) keselamatan kerja perusahaan.
Namun, saat aktivitas berlangsung, enam pekerja pemupukan di Blok N45 secara bersamaan mengeluhkan pusing. Setelah dilakukan evaluasi di lapangan, gejala tersebut diduga muncul akibat paparan herbisida dari kegiatan penyemprotan di Blok M45 yang terbawa embusan angin hingga mencapai area pemupukan.
"Mendapati kondisi tersebut, perusahaan segera mengevakuasi seluruh pekerja yang mengalami keluhan menggunakan kendaraan operasional menuju RSUD Muara Teweh untuk mendapatkan penanganan medis," ujar Jono kepada Borneonews pada Minggu, 28 Juni 2026.
Setelah menjalani observasi dan perawatan selama satu malam, kondisi keenam pekerja dinyatakan membaik. Mereka kemudian diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit pada Kamis, 25 Juni 2026 pagi dan diantar kembali ke rumah masing-masing oleh manajemen perusahaan.
Namun pada Kamis malam sekitar pukul 20.00 WIB, tiga pekerja kembali mengalami keluhan berupa pusing disertai mual. Keluarga kemudian menghubungi pihak perusahaan yang langsung mengevakuasi ketiganya kembali ke RSUD Muara Teweh untuk mendapatkan penanganan lanjutan.
Hingga saat ini, ketiga pekerja tersebut masih menjalani perawatan intensif di bawah pengawasan tim medis.
Jono menegaskan perusahaan bertanggung jawab penuh terhadap seluruh biaya dan proses pengobatan para pekerja yang terdampak. Manajemen juga terus melakukan pendampingan serta memantau perkembangan kondisi kesehatan mereka hingga benar-benar pulih dan dapat kembali beraktivitas seperti sedia kala. (TESTI PRISCILLA/H)









