JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta - Perwakilan Komisioner Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Pengungsi (UNHCR) menyebutkan alasan mengapa pengungsi tak kunjung pindah ke negara ketiga, sehingga harus menunggu bertahun-tahun di Indonesia.

"Secara global kurang dari satu persen pengungsi bisa menikmati opsi penempatan ke negara ketiga melalui penempatan kembali (resettlement). Namun, kriteria dan kuota yang diterima ditentukan oleh negara ketiga bukan oleh UNHCR," kata Assistant Protection Officer UNHCR, Hendrik Therik saat dihubungi di Jakarta, Senin.

Hendrik menjelaskan bahwa penempatan kembali bukan merupakan hak yang secara otomatis diterima seluruh pengungsi, melainkan salah satu opsi solusi jangka panjang yang tersedia bagi sebagian kecil pengungsi di dunia.

Menurut dia, negara penerima memiliki kewenangan penuh dalam menentukan jumlah kuota serta kategori pengungsi yang akan diterima setiap tahunnya.

Dalam praktiknya, prioritas biasanya diberikan kepada pengungsi yang berada dalam kondisi sangat rentan atau vulnerable.

UNHCR menyebut banyak pengungsi masih berharap dapat ditempatkan ke negara ketiga, namun ekspektasi tersebut tidak selalu sejalan dengan kondisi yang ada.

"Pengungsi terkadang punya ekspektasi yang tidak tepat dan tidak sejalan dengan realita yang ada," ujarnya.

Terlebih, UNHCR juga melihat kuota resettlement berkurang seiring dengan menurunnya dukungan kemanusiaan secara global.

Akibatnya, masa tunggu pengungsi di negara suaka seperti Indonesia menjadi semakin panjang. UNHCR mencatat rata-rata pengungsi berada di Indonesia selama tujuh tahun, sementara sekitar 30 persen dari sekitar 12 ribu pengungsi yang terdaftar di Indonesia telah tinggal lebih dari 10 tahun.

Menghadapi kondisi tersebut, UNHCR mendorong pengungsi untuk mulai mempertimbangkan alternatif lain seperti jalur pendidikan, program sponsor, maupun jalur tenaga kerja di negara ketiga.

"Pengungsi perlu menyadari bahwa bergantung pada resettlement saja tidak sustainable (berkelanjutan)," katanya.

Dia menilai pengungsi perlu memiliki opsi alternatif dan mencari kesempatan untuk mengembangkan diri di mana mereka berada sambil menanti solusi jangka panjang.

UNHCR menilai pengembangan keterampilan, pendidikan, dan kemandirian ekonomi menjadi langkah penting agar pengungsi dapat membangun kehidupan yang lebih bermartabat sambil menunggu solusi jangka panjang.

ANTARA