BORNEONEWS, Kuala Kapuas – Prakiraan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut menunjukkan sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah diperkirakan mengalami curah hujan rendah dengan sifat hujan di bawah normal sepanjang Juli 2026. Peta prakiraan yang diperbarui pada 27 Juni 2026 itu memperlihatkan hampir seluruh wilayah provinsi didominasi kategori bawah normal, meski sebagian kawasan utara masih memiliki karakter hujan yang relatif lebih baik dibandingkan wilayah selatan.
Temuan tersebut menarik karena pola serupa juga terlihat di Kabupaten Kapuas. Berdasarkan pengamatan Borneonews terhadap dinamika cuaca dalam beberapa musim kemarau terakhir, wilayah Kapuas bagian selatan umumnya lebih cepat mengalami kondisi kering, sementara kawasan utara masih relatif lebih sering diguyur hujan. Perbedaan itu kemudian ditelusuri kepada BMKG untuk mengetahui penjelasan ilmiahnya.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Muhamad Ihsan Sidiq, menjelaskan bahwa salah satu faktor utama berasal dari aktifnya Monsun Australia. Saat musim kemarau, angin bertiup dari arah timur hingga tenggara membawa massa udara yang relatif kering dan dingin sehingga memengaruhi penjalaran awal musim kemarau, terutama di wilayah Kalimantan Tengah bagian timur dan tenggara.
"Monsun Australia menyebabkan musim kemarau dan berpengaruh pada penjalaran awal musim kemarau yang biasanya lebih dahulu terjadi di daerah Kalimantan Tengah bagian timur dan tenggara. Saat musim kemarau memang masih ada hujan, tetapi akumulasi curah hujannya lebih sedikit sehingga identik dengan kondisi yang lebih kering," ujar Ihsan, Senin, 29 Juni 2026.
Menurutnya, pengaruh Monsun Australia bukan satu-satunya penyebab. Sebagian wilayah Kalimantan Tengah bagian utara, termasuk sebagian wilayah Kapuas bagian utara, masuk kategori non Zona Musim (non ZOM) atau wilayah yang tidak memiliki batas musim hujan dan kemarau yang tegas. Karakter tersebut membuat peluang hujan di wilayah utara tetap relatif lebih tinggi meski musim kemarau telah berlangsung.
"Sebagian wilayah Kalimantan Tengah bagian utara, termasuk sebagian wilayah Kapuas bagian utara, masuk wilayah non ZOM. Itu salah satu faktor mengapa curah hujan di wilayah utara sedikit lebih banyak dibandingkan wilayah selatan atau wilayah lainnya," jelasnya.
Ihsan menambahkan, musim kemarau tahun ini juga dipengaruhi fenomena El Niño. Fenomena tersebut mengurangi pasokan uap air dari laut sehingga pembentukan awan hujan berkurang. Akibatnya, musim kemarau 2026 diprakirakan lebih kering dibandingkan kondisi klimatologis normal. Kondisi itu pula yang menyebabkan sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah diprediksi mengalami sifat hujan di bawah normal selama Juli.
Temuan ini juga menjadi referensi penting bagi pihak-pihak terkait dalam memetakan potensi risiko selama musim kemarau. Dengan karakter wilayah yang berbeda, langkah antisipasi tidak dapat disamaratakan. Kawasan Kapuas bagian selatan yang lebih cepat mengering memerlukan kesiapsiagaan lebih dini terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, hingga potensi berkurangnya ketersediaan air. Sementara di wilayah utara, pemantauan cuaca tetap diperlukan karena peluang hujan masih relatif lebih besar akibat karakter non Zona Musim (non ZOM).
Dengan demikian, perbedaan kondisi kemarau antara Kapuas bagian selatan dan utara bukan semata dipengaruhi letak geografis, melainkan merupakan hasil interaksi beberapa faktor atmosfer sekaligus, yakni pengaruh Monsun Australia, karakter wilayah non ZOM di bagian utara, serta fenomena El Niño. Kombinasi itulah yang membuat wilayah selatan cenderung lebih dahulu mengalami kondisi kering, sedangkan sebagian wilayah utara masih memiliki peluang hujan yang lebih tinggi selama musim kemarau. (SABRIANOOR/y)









