BORNEONEWS, Kuala Kapuas – Gelombang panas yang melanda sejumlah negara di Eropa dalam beberapa pekan terakhir memicu suhu ekstrem, kebakaran hutan, hingga gangguan kesehatan masyarakat.
Fenomena tersebut turut memunculkan pertanyaan apakah kondisi serupa dapat terjadi di Indonesia, termasuk Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.
Berdasarkan penjelasan ilmiah dalam situs resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, fenomena heat wave atau gelombang panas yang terjadi di Eropa hampir tidak mungkin terjadi di Indonesia.
BMKG menjelaskan bahwa Indonesia berada di wilayah tropis dekat garis khatulistiwa sehingga memiliki karakteristik iklim yang berbeda dengan kawasan subtropis maupun lintang menengah tempat gelombang panas lazim terjadi.
Selain itu, suhu maksimum di Indonesia secara klimatologis juga tidak pernah mencapai 40 derajat Celsius sebagaimana kerap terjadi di kawasan Eropa, Timur Tengah, maupun Asia Selatan.
Penjelasan tersebut sejalan dengan definisi World Meteorological Organization yang menyebut heat wave sebagai periode beberapa hari berturut-turut ketika suhu udara berada jauh di atas nilai normal klimatologis suatu wilayah.
Dengan kata lain, gelombang panas tidak hanya ditentukan oleh tingginya suhu, tetapi juga oleh besarnya penyimpangan suhu dari kondisi normal setempat.
Fenomena ini umumnya berkembang akibat sistem tekanan tinggi yang bertahan lama sehingga udara panas terperangkap di dekat permukaan.
Bagi masyarakat Kapuas, kondisi yang lebih mungkin terjadi pada musim kemarau adalah peningkatan suhu udara dan indeks panas, bukan heat wave.
Langit yang lebih cerah akibat dominasi Monsun Australia serta berkurangnya pembentukan awan saat pengaruh El Niño membuat penyinaran matahari ke permukaan meningkat.
Dampaknya, suhu siang hari terasa lebih terik, terlebih karena kelembapan udara di wilayah tropis masih relatif tinggi.
Dengan demikian, meski masyarakat Kapuas dapat merasakan cuaca yang sangat panas selama musim kemarau, kondisi tersebut secara ilmiah berbeda dengan gelombang panas yang kini melanda Eropa.
Karena itu, penggunaan istilah heat wave untuk menggambarkan cuaca di Kalimantan Tengah tidak tepat, kecuali terdapat pernyataan resmi dari BMKG atau WMO yang menyatakan sebaliknya. (SABRIANOOR)








