SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Sektor industri pengolahan masih menjadi motor utama perekonomian Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kotim, sektor ini menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah pada Triwulan I 2026.

"Sektor industri pengolahan menyumbang 23,03 persen terhadap total PDRB Kabupaten Kotawaringin Timur pada Triwulan I 2026," kata Kepala BPS Kotim Eddy Surahman, Selasa, 30 Juni 2026.

Ia menjelaskan, hasil perhitungan PDRB menunjukkan terdapat tiga sektor ekonomi yang memiliki peranan paling besar dalam menopang perekonomian Kotim, yakni industri pengolahan, sektor pertanian, serta perdagangan.

Setelah industri pengolahan, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan berada di posisi kedua dengan kontribusi sebesar 21,50 persen.

Sementara itu, sektor perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil dan sepeda motor, menempati urutan ketiga dengan sumbangan sebesar 19,86 persen terhadap total PDRB.

Menurut Eddy, dominasi ketiga sektor tersebut mencerminkan bahwa aktivitas ekonomi di Kotim masih bertumpu pada sektor riil. Kegiatan pengolahan hasil produksi, pemanfaatan sumber daya alam, serta perdagangan menjadi penggerak utama roda perekonomian daerah.

Komoditas kelapa sawit memiliki peran strategis karena memberikan kontribusi pada lebih dari satu sektor ekonomi.

Produksi tandan buah segar (TBS) tercatat dalam kategori sektor pertanian, sedangkan produk turunannya berupa crude palm oil (CPO) masuk ke sektor industri pengolahan.

"Kalau sawit itu masuk sektor pertanian, sedangkan CPO-nya masuk ke sektor industri pengolahan," ujarnya.

Selain tiga sektor terbesar tersebut, BPS mencatat sektor transportasi dan pergudangan menyumbang 10,51 persen terhadap PDRB Kotim.

Kontribusi berikutnya berasal dari sektor konstruksi sebesar 5,88 persen dan sektor pertambangan serta penggalian sebesar 5,51 persen.

Sementara itu, sektor jasa memberikan kontribusi yang lebih kecil. Jasa keuangan dan asuransi tercatat sebesar 3,92 persen, jasa pendidikan 2,51 persen, administrasi pemerintahan 1,85 persen, real estat 1,55 persen, informasi dan komunikasi 0,58 persen, serta jasa perusahaan sebesar 0,03 persen.

Eddy menilai susunan tersebut memperlihatkan bahwa ekonomi Kotim hingga kini masih didominasi sektor produktif berbasis pengolahan dan pertanian yang didukung komoditas unggulan daerah.

Di sisi lain, sektor jasa terus mengalami perkembangan seiring meningkatnya aktivitas ekonomi, mobilitas distribusi barang, serta kebutuhan berbagai layanan penunjang di masyarakat.

"Secara umum, struktur PDRB Triwulan I 2026 menunjukkan perekonomian Kotawaringin Timur masih bertumpu pada sektor riil, sementara sektor jasa terus berkembang sebagai pendukung aktivitas ekonomi daerah," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/R)