BORNEONEWS, Sampit – Perum Bulog Kantor Cabang Kotawaringin Timur telah menyerap sekitar 9.658 ton gabah kering panen atau GKP hingga akhir Juni 2026.
Gabah tersebut berasal dari hasil pertanian di tiga kabupaten wilayah kerja Bulog Kotim, yakni Kotawaringin Timur, Katingan, dan Seruyan.
Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Kotim, Wahyu Tri Hutomo, mengatakan capaian tersebut setara sekitar 58 persen dari target 16.554 ton GKP yang diberikan Kantor Wilayah Kalimantan Tengah.
“Kami sudah menyerap sekitar 58 persen dari target 16.554 ton GKP yang diberikan Kantor Wilayah Kalimantan Tengah,” kata Wahyu di Sampit, Selasa, 30 Juni 2026.
Ia menjelaskan, penyerapan gabah dan beras masih terus dilakukan untuk memperkuat stok pangan nasional.
Langkah itu juga menjadi bagian dari dukungan Bulog terhadap program swasembada pangan pemerintah.
Menurut Wahyu, capaian serapan tersebut berasal dari hasil musim tanam pertama.
Sementara tahun ini masih ada dua musim tanam berikutnya, sehingga pihaknya optimistis sisa target 42 persen dapat dipenuhi sebelum akhir 2026.
“Jadi kami targetkan sisa dari 42 persen itu bisa masuk di semester kedua tahun ini. Berarti sekitar 7.000 ton atau 8.000 ton kita masih siap untuk menyerap gabah kering panen,” ujarnya.
Wahyu menyebut daerah penyumbang serapan terbesar di wilayah kerja Bulog Cabang Sampit berasal dari Kotawaringin Timur, khususnya Kecamatan Teluk Sampit dan Mentaya Hilir Selatan.
Selain itu, Kabupaten Katingan juga menjadi salah satu daerah penyumbang, terutama wilayah Kelurahan Pagatan.
Sekitar pertengahan Juli 2026, sejumlah daerah diperkirakan mulai memasuki masa panen kedua.
Wilayah Lempuyang dan Pagatan menjadi daerah yang sebelumnya telah dipantau langsung oleh Bulog Kotim.
Karena itu, Bulog Kotim bersiap menyerap hasil panen petani pada musim tanam berikutnya.
Adapun harga pembelian pemerintah atau HPP untuk GKP masih tetap sebesar Rp6.500 per kilogram di tingkat petani.
Terkait potensi dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian, Wahyu mengakui kondisi tersebut dapat memengaruhi produksi.
Namun, ia tetap optimistis hasil panen petani pada musim tanam berikutnya dapat berjalan baik.
Optimisme itu didukung adanya teknologi pertanian serta bantuan sarana pengairan bagi petani.
“Insya Allah, kami optimis bisa tercapai. Sekarang kan banyak teknologi seperti pompanisasi, bantuan juga banyak dari dinas untuk pompanisasi kalau memang kurang air,” ucapnya.
Wahyu menambahkan, meski target serapan nantinya telah tercapai 100 persen, Bulog tetap akan menyerap hasil panen petani selama masih ada penugasan dari pemerintah pusat dan dukungan anggaran tersedia.









