KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Bayangkan pulang sendirian melewati jalan di sekitar rumah saat malam mulai turun. Sebagian orang mungkin memilih mempercepat langkah. Namun bagi mayoritas warga Kalimantan Tengah, situasi seperti itu masih dianggap cukup aman. Itulah gambaran yang terekam dalam data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS).

Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025 yang dirilis BPS pada April 2026, sebanyak 89,84 persen penduduk Kalimantan Tengah menyatakan merasa aman berjalan sendirian di area tempat tinggalnya. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara lima provinsi di Pulau Kalimantan.

Di bawah Kalimantan Tengah terdapat Kalimantan Selatan dengan 88,82 persen, Kalimantan Utara 87,97 persen, Kalimantan Timur 86,18 persen, dan Kalimantan Barat 84,14 persen. Data itu merupakan bagian dari indikator 16.1.4 Sustainable Development Goals (SDGs) yang dipublikasikan BPS sebagai salah satu ukuran kondisi keamanan yang dirasakan masyarakat.

Sekilas, angka tersebut bisa membuat orang menyimpulkan Kalimantan Tengah adalah provinsi paling aman di Kalimantan. Padahal, bukan itu yang diukur. BPS tidak menghitung jumlah kasus kejahatan dalam indikator ini, melainkan menanyakan langsung kepada responden apakah mereka merasa aman berjalan sendirian di lingkungan tempat tinggalnya.

Perbedaan itu penting. Sebab rasa aman tidak selalu bergerak searah dengan angka kriminalitas. Lingkungan yang terang, hubungan antarwarga yang baik, hingga pengalaman pribadi dapat memengaruhi jawaban seseorang dalam survei. Karena itu, indikator ini menggambarkan persepsi masyarakat, bukan tingkat kejahatan yang sebenarnya.

Dalam metadata indikator SDGs, BPS menjelaskan bahwa pengukuran tersebut digunakan untuk melihat sejauh mana masyarakat merasakan keamanan di lingkungan tempat tinggalnya. Hasilnya menjadi salah satu acuan dalam memantau capaian pembangunan yang berkaitan dengan masyarakat yang damai dan inklusif.

Temuan ini menunjukkan hampir sembilan dari sepuluh warga Kalimantan Tengah merasa aman beraktivitas di lingkungan tempat tinggalnya. Di sisi lain, data tersebut juga menjadi pengingat bahwa rasa aman adalah sesuatu yang harus terus dijaga, karena persepsi masyarakat dapat berubah seiring kondisi keamanan yang mereka alami sehari-hari. (SABRIANOOR)