BORNEONEWS, Jakarta - Anggota Komisi I DPR RI, Oleh Soleh, menilai langkah Kementerian Pertahanan mengevaluasi program latihan dasar kemiliteran atau latsarmil bagi calon manajer koperasi desa dan koperasi nelayan merupakan keputusan yang tepat.
Menurutnya, keputusan Kemhan menghentikan program latsarmil dan menggantinya dengan pembekalan bela negara serta manajerial menunjukkan pemerintah responsif terhadap masukan masyarakat.
“Kami mengapresiasi dan mendukung langkah Kemhan yang melakukan evaluasi serta menghentikan program latsarmil dan menggantinya dengan pendidikan bela negara dan manajerial. Ini merupakan keputusan yang tepat dan responsif terhadap berbagai masukan serta evaluasi yang berkembang,” katanya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026.
Oleh menilai, latsarmil kurang relevan dengan tugas dan fungsi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih serta Koperasi Nelayan Merah Putih.
Menurutnya, para calon manajer koperasi lebih membutuhkan penguatan kapasitas di bidang manajemen, kepemimpinan, tata kelola organisasi, serta pengembangan usaha koperasi.
Meski demikian, ia menegaskan pendidikan bela negara tetap penting diberikan. Materi tersebut dinilai dapat membentuk karakter, kedisiplinan, serta semangat pengabdian kepada bangsa.
Namun, ia mengingatkan agar materi pembekalan disesuaikan dengan kebutuhan peserta sebagai calon pengelola koperasi.
“Pendidikan bela negara dan manajerial sangat dibutuhkan. Selain membangun karakter dan rasa cinta tanah air, program tersebut juga tidak memberatkan calon manajer kopdes sehingga mereka dapat fokus mempersiapkan diri menjalankan tugasnya di lapangan,” ucapnya.
Oleh juga meminta perubahan yang dilakukan Kemhan tidak hanya sebatas mengganti nama program. Menurutnya, substansi, metode pembelajaran, dan sistem pelatihan harus ikut diperbaiki.
Perbaikan tersebut penting agar pelatihan benar-benar sesuai dengan tujuan pembentukan sumber daya manusia pengelola koperasi yang profesional.
“Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh agar pelatihan lebih efektif, relevan dengan kebutuhan peserta, dan yang paling penting tidak lagi menimbulkan korban jiwa,” ujarnya.
Ia berharap perubahan program tersebut mampu memberikan kompetensi yang lebih relevan bagi calon manajer koperasi. Dengan begitu, pengelolaan koperasi dapat berjalan lebih profesional, produktif, dan berkelanjutan.
Sebelumnya, Kemhan menghentikan latsarmil bagi peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia atau SPPI yang dipersiapkan sebagai calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Koperasi Nelayan Merah Putih.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengatakan Kemhan melakukan penyesuaian pendekatan kegiatan.
“Kemhan melakukan penyesuaian pendekatan kegiatan. Terminologi dan pelaksanaan kegiatan saat ini diarahkan menjadi latihan pembekalan bela negara dan manajerial, bukan latsarmil lagi,” kata Rico, Senin, 29 Juni 2026.
Perubahan tersebut dilakukan setelah Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengevaluasi sistem pembelajaran menyusul meninggalnya lima peserta latsarmil.
Dengan evaluasi itu, kegiatan fisik dan pelatihan bernuansa kemiliteran akan dikurangi. Termasuk kegiatan menembak yang tidak lagi menjadi bagian dari pelaksanaan latihan.
“Fokus kegiatan diarahkan pada pembentukan disiplin, karakter, kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, wawasan kebangsaan, serta kesiapan manajerial peserta sebagai calon pengelola koperasi,” jelas Rico.
ANTARA









