BORNEONEWS, Palangka Raya - Kinerja Bank Perekonomian Rakyat atau BPR dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah atau BPRS di Kalimantan Tengah hingga Mei 2026 tetap menunjukkan kondisi yang sehat. Hal itu ditandai dengan pertumbuhan aset, dana pihak ketiga atau DPK, dan pembiayaan, disertai penurunan rasio kredit bermasalah.
Kepala Bagian Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Kalimantan Tengah, Erwan Suryono, mengatakan seluruh indikator utama BPR dan BPRS mengalami perkembangan positif dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Hingga Mei 2026, kinerja BPR dan BPRS di Kalimantan Tengah tetap terjaga. Pertumbuhan aset, penghimpunan dana masyarakat, maupun penyaluran kredit menunjukkan tren yang positif," kata Erwan pada Kamis, 2 Juli 2026.
Erwan menjelaskan, total aset BPR dan BPRS mencapai Rp2,57 triliun atau meningkat Rp654,88 miliar dibandingkan Mei 2025. Secara tahunan, pertumbuhan aset mencapai 34,15 persen dari sebelumnya Rp1,92 triliun.
Dari sisi penghimpunan dana masyarakat, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencatat pertumbuhan paling tinggi. Nilainya mencapai Rp1,42 triliun atau meningkat Rp585,15 miliar atau 70,43 persen dibandingkan posisi Mei 2025 yang sebesar Rp830 miliar.
Sementara itu, penyaluran kredit dan pembiayaan juga tetap tumbuh. Hingga Mei 2026, total kredit BPR dan BPRS mencapai Rp1,31 triliun atau meningkat Rp41,37 miliar atau 3,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Erwan, kualitas kredit juga mengalami perbaikan. Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan/Non Performing Financing (NPL/NPF) turun dari 7,16 persen pada Mei 2025 menjadi 5,78 persen pada Mei 2026, atau membaik sebesar 1,38 poin persentase.
"Penurunan NPL/NPF menunjukkan kualitas pembiayaan BPR dan BPRS semakin baik. Ini menjadi indikator bahwa pengelolaan risiko kredit terus membaik sehingga dapat mendukung fungsi intermediasi secara lebih optimal," katanya.
Ia menambahkan, OJK akan terus melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap BPR dan BPRS agar mampu menjaga kinerja yang sehat sekaligus meningkatkan perannya dalam memperluas akses pembiayaan, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah serta masyarakat di daerah.
Sebelumnya, Direktur Utama Bank Kalteng, Maslipansyah, mengatakan total aset Bank Kalteng hingga akhir 2025 mencapai Rp20,4 triliun atau tumbuh 21,46 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat menjadi Rp13,8 triliun atau tumbuh 28,01 persen secara tahunan. Penyaluran kredit juga terus mengalami peningkatan menjadi Rp11,7 triliun atau tumbuh 9,42 persen.
Dari sisi profitabilitas, Bank Kalteng membukukan laba bersih sebesar Rp368,5 miliar atau meningkat 14,76 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Pencapaian kinerja tahun 2025 merupakan pertumbuhan terbaik sejak Bank Kalteng berdiri," kata Maslipansyah saat memaparkan kinerja perusahaan dalam Media Update Triwulan II 2026 Batang Garing yang digelar OJK Kalimantan Tengah baru-baru ini.
Ia menjelaskan, tren pertumbuhan Bank Kalteng juga menunjukkan peningkatan yang konsisten selama tiga tahun terakhir. Total aset meningkat dari Rp15,1 triliun pada 2023 menjadi Rp16,8 triliun pada 2024, sebelum akhirnya mencapai Rp20,4 triliun pada 2025.
Sementara itu, DPK naik dari Rp10,7 triliun pada 2023 menjadi Rp10,8 triliun pada 2024, kemudian melonjak menjadi Rp13,8 triliun pada 2025. Penyaluran kredit juga tumbuh dari Rp9,7 triliun pada 2023 menjadi Rp10,7 triliun pada 2024 dan meningkat lagi menjadi Rp11,7 triliun pada 2025.(TESTI PRISCILLA/y)









