BORNEONEWS, Sampit – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur mencatat sedikitnya 11 hektare lahan telah terbakar di sejumlah wilayah tersebut pada awal Juli 2026.
"Sejak hari Selasa itu sudah hampir 11 hektare," kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, Jumat, 3 Juli 2026.
Ia menjelaskan, luasan lahan yang terbakar tersebar di beberapa kecamatan. Berdasarkan hasil patroli udara, di Kecamatan Mentaya Hulu ditemukan dua titik api dengan estimasi luas sekitar tiga hektare.
Selain itu, kebakaran juga terjadi di Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, dengan luas sekitar empat hektare.
Sementara itu, kebakaran juga terjadi di Jalan Ir Soekarno, Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, yang berada di dekat kawasan Bandara H Asan Sampit. Kebakaran yang berlangsung sejak 2 hingga 3 Juli 2026 itu diperkirakan telah menghanguskan sekitar empat hektare lahan dan saat berita ini ditulis masih dalam proses pemadaman.
Menurut Multazam, kawasan di sekitar Kota Sampit menjadi perhatian khusus BPBD karena beberapa titik kebakaran berada di dekat objek vital.
"Untuk wilayah Kota Sampit, berdasarkan data kami dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini menjadi daerah yang harus ditangani lebih awal karena berada dekat objek vital. Jangan sampai mengganggu transportasi udara," ujarnya.
BPBD Kotim juga terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Provinsi Kalimantan Tengah dalam upaya penanganan karhutla.
Ia mengungkapkan, BNPB telah menyiapkan dukungan water bombing yang saat ini bersiaga di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya.
"Kami terus komunikasi dengan BPPK Provinsi. Memang informasi hari ini atau besok, sudah ada water bombing, tapi mereka posisi di Bandara Tjilik Riwut," imbuhnya.
Di sisi lain, operasi modifikasi cuaca (OMC) yang sebelumnya dilakukan untuk memicu hujan buatan telah dihentikan. Karena berdasarkan analisis BMKG, potensi awan hujan di wilayah Kalimantan Tengah sudah tidak mencukupi sehingga operasi tidak dapat dilanjutkan.
"Sementara operasi modifikasi cuaca itu berakhir hari Sabtu kemarin. Dan berdasarkan perhitungan data dari BMKG, sudah tidak tersedia lagi awan hujan sehingga mereka menghentikan operasi," jelasnya.
Menghadapi kondisi tersebut, BPBD mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan tidak membuka lahan dengan cara membakar.
"Kami berharap kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









