BORNEONEWS, Caracas - Jumlah korban luka akibat gempa bumi dahsyat di Venezuela kini telah melampaui 12 ribu orang.
Penjabat Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez, mengatakan seluruh layanan kesehatan di negara tersebut telah dikerahkan untuk menangani para korban.
“Seluruh layanan kesehatan di Venezuela saat ini telah dikerahkan untuk menangani 12.400 korban luka yang ada," kata Delcy Rodriguez, Kamis, 2 Juli 2026 waktu setempat.
Selain jumlah korban luka yang terus bertambah, Delcy juga menyampaikan kabar duka terkait banyaknya pejabat daerah La Guaira yang dilaporkan meninggal dunia akibat bencana tersebut.
Ia mencatat sedikitnya 189 bangunan runtuh total akibat guncangan gempa.
Berdasarkan data terbaru otoritas Venezuela, jumlah korban meninggal dunia dilaporkan mencapai 2.295 orang.
Venezuela diguncang dua gempa bumi kuat pada Rabu, 24 Juni 2026. Negara di pesisir utara Amerika Selatan itu diguncang gempa dengan magnitudo 7,2 dan 7,5 dalam waktu berdekatan.
Guncangan awal atau foreshock bermagnitudo 7,2 terjadi pada pukul 18.04 waktu setempat atau GMT-4. Gempa utama bermagnitudo 7,5 kemudian terjadi 39 detik setelahnya.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia memastikan tidak ada warga negara Indonesia atau WNI yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut.
Kedutaan Besar Republik Indonesia atau KBRI di Caracas juga terus memantau kondisi WNI yang berada di Venezuela.
“KBRI Caracas telah memastikan bahwa seluruh WNI yang terdata berada di Venezuela, yakni sebanyak 3 orang, berada dalam kondisi aman, selamat, dan sehat,” kata Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, di Jakarta, Kamis, 25 Juni 2026.
Heni juga memastikan seluruh staf KBRI Caracas berada dalam kondisi aman dan selamat.
“Gedung kantor KBRI Caracas beserta Wisma Duta juga tidak mengalami kerusakan struktural yang berarti,” katanya.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA/ANTARA









