JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menaikkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga.

Gunung Anak Krakatau berada di Selat Sunda, antara pesisir barat Lampung dan Banten.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan peningkatan status tersebut didasarkan pada hasil pemantauan visual dan instrumental yang menunjukkan kenaikan signifikan aktivitas vulkanik dalam beberapa waktu terakhir.

Data pengamatan menunjukkan adanya peningkatan jumlah gempa vulkanik, perubahan deformasi tubuh gunung, serta aktivitas permukaan yang mengindikasikan suplai magma menuju bagian dangkal.

"Peningkatan aktivitas ini menunjukkan adanya suplai magma ke permukaan, sehingga masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius yang telah direkomendasikan," kata Lana Saria di Jakarta, Jumat, 3 Juli 2026.

Lana menjelaskan, hasil pemantauan tiltmeter di sejumlah stasiun pengamatan juga menunjukkan kecenderungan inflasi.

Kondisi tersebut menandakan adanya akumulasi tekanan di dalam tubuh gunung api.

Badan Geologi merekomendasikan masyarakat, nelayan, dan wisatawan tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius lima kilometer dari kawah aktif.

Imbauan itu dikeluarkan untuk menghindari potensi bahaya erupsi maupun lontaran material pijar.

Masyarakat di sekitar pesisir Selat Sunda juga diminta tetap tenang, namun tetap meningkatkan kewaspadaan.

Warga diimbau mengikuti arahan pemerintah daerah serta petugas pemantau gunung api.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait telah diminta menyiapkan langkah mitigasi dan memperkuat koordinasi apabila terjadi peningkatan aktivitas lebih lanjut.

Badan Geologi menegaskan pemantauan Gunung Anak Krakatau dilakukan secara intensif selama 24 jam.

Pemantauan dilakukan dengan memanfaatkan jaringan seismik, deformasi, dan pengamatan visual agar perkembangan aktivitas vulkanik dapat terdeteksi secara dini.

ANTARA