BORNEONEWS, Jakarta - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengatakan Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) berhasil mentransformasikan layanan pendidikan dari yang berpusat pada sekolah menjadi berpusat pada kebutuhan peserta didik, sehingga dapat menjangkau Anak Tidak Sekolah (ATS).
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendikdasmen Suharti mengatakan implementasi PJJ menjadi upaya pihaknya dalam menekan angka ATS yang sampai saat ini jumlahnya masih sebanyak 4 juta anak dengan rentang usia 7-18 tahun.
“Kami bergerak dari layanan yang berpusat pada sekolah menjadi layanan yang berpusat pada kebutuhan peserta didik. Dari sekedar membuka penerimaan murid baru, menjadi gerakan aktif menemukan, menjangkau, dan mengembalikan ATS ke layanan pendidikan. Di dalam konteks inilah Pendidikan Jarak Jauh menjadi program yang sangat strategis,” kata Suharti dalam webinar bertajuk "SPMB PJJ Gerakan Mengembalikan ATS Kembali Bersekolah melalui PJJ" di Jakarta pada Jumat.
Lebih lanjut ia menegaskan implementasi PJJ bukanlah sekedar menghadirkan layanan pendidikan yang menggunakan internet maupun perangkat TIK, melainkan transformasi layanan pendidikan yang memungkinkan proses belajar lebih fleksibel, tidak terbatas pada ruang dan waktu.
Selain itu, lanjutnya, PJJ juga tidak sepenuhnya menyelenggarakan layanan pendidikan secara daring.
Ia mengatakan pelaksanaan PJJ haruslah mengkombinasikan metode luring dan daring, sehingga dapat memberikan akses dan layanan pendidikan yang adil kepada ATS, termasuk mereka yang berada pada wilayah 3T dengan keterbatasan infrastruktur digital.
“PJJ bukan sekedar pembelajaran menggunakan internet semata, PJJ menggabungkan pembelajaran daring dan luring, serta memberikan kesempatan kepada anak yang sebelumnya sulit mengakses sekolah reguler menjadi mudah terakses. Melalui PJJ, anak di daerah terpencil juga tetap dapat belajar,” kata Suharti.
Karena itu ia pun mengajak para pemerintah daerah dan satuan pendidikan untuk saling bersinergi dan berkoordinasi dalam mendukung dan mengawasi pelaksanaan program PJJ di wilayah masing-masing sehingga dapat berjalan tepat sasaran.
“Ukuran keberhasilan kita bukan hanya berapa anak yang mendaftar, yang terdaftar, yang kita daftarkan, tetapi berapa anak yang bertahan belajar,” kata Suharti.
ANTARA









