BORNEONEWS, Jakarta - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendesak semua pihak terkait mengambil langkah konkret yang terukur dalam upaya menekan jumlah anak merokok di Indonesia.
"Pemahaman masyarakat terkait pentingnya pola hidup sehat harus terus ditingkatkan mulai dari lingkungan keluarga, sehingga kesadaran untuk mewujudkan generasi yang kuat dan tangguh terus tumbuh," kata Lestari dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Data Ruang Kebijakan Kesehatan Indonesia (RUKKI) Foundation mengungkap bahwa sepanjang tahun 2025, tercatat 2,03 juta anak remaja di Indonesia menghabiskan Rp4,5 triliun per tahun untuk membeli 4,17 miliar batang rokok.
Lestari mengatakan angka tersebut bukan sekadar statistik, tetapi alarm krisis yang mengancam masa depan generasi Indonesia Emas 2045.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi perokok usia 10–18 tahun tercatat 7,4 persen.
Menurut Rerie, sapaan akrab Lestari, angka itu masih lebih tinggi daripada target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2024–2029 sebesar 5,4 persen.
"Catatan ini harus segera ditindaklanjuti bersama semua pihak dengan langkah nyata, agar target yang telah ditetapkan benar-benar bisa direalisasikan," ujarnya.
Anggota Komisi X DPR RI itu mengatakan sejumlah upaya teknis yang dilakukan pemerintah untuk mencegah dan menekan penjualan rokok kepada anak dan remaja patut diapresiasi.
Menurut Rerie, upaya sosialisasi meningkatkan kesadaran mengenai bahaya tembakau dan nikotin sejak dini menuntut dukungan kolaborasi lintas sektor.
Dia berpendapat bahwa langkah terpenting yang harus dilakukan adalah penguatan pemahaman penerapan pola hidup sehat sejak lingkungan keluarga dan pendidikan.
"Kebiasaan baik harus dimulai dari lingkungan keluarga. Para orang tua harus mampu mengedukasi anak sejak dini agar penerapan pola hidup sehat menjadi keseharian keluarga dan masyarakat," tuturnya.
Rerie menegaskan menyelamatkan anak dari bahaya rokok adalah investasi jangka panjang untuk mewujudkan Indonesia Emas yang sehat, produktif, dan berdaya saing.
ANTARA









