PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Di tengah semakin berkembangnya dunia pendidikan, kenyataan pahit masih ditemukan di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Sejumlah anak bahkan siswa yang telah mengenyam pendidikan hingga jenjang sekolah menengah ternyata belum mampu membaca dan menulis. 

Hal tersebut disampaikan oleh penggiat literasi di Kabupaten Kobar, Mia Cisadani. Ia mengatakan terdapat sekitar 20 anak di SDN 1 Raja yang masih memerlukan perhatian khusus dalam kemampuan membaca dan menulis.

Sementara di SMPN 9 Kumpai Batu Bawah ditemukan tujuh siswa dengan kondisi serupa, dan di SMPN 1 Kumai terdapat sedikitnya 12 siswa yang hingga kini masih membutuhkan pendampingan intensif.

Mia Cisadani menyampaikan, persoalan literasi yang ditemuinya bukan sekadar laporan atau cerita dari orang lain. Ia mengaku melihat langsung kondisi anak-anak yang belum menguasai kemampuan dasar membaca dan menulis, bahkan setelah duduk di bangku sekolah.

"Ketika saya turun langsung ke lapangan, saya melihat sendiri masih ada anak-anak yang belum bisa membaca dan menulis. Ini bukan persoalan yang bisa dianggap sepele, karena kemampuan literasi merupakan bekal utama bagi masa depan mereka," ujar Mia, Sabtu, 4 Juli 2026.

Sehingga, melihat ondisi tersebut mendorong, Mia Cisadani membangun Komunitas Insan Kreatif Gemilang untuk hadir memberikan pendampingan secara langsung kepada anak-anak yang membutuhkan melalui gerakan literasi berbasis pendidikan.

Sekitar 30 relawan yang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga para pekerja ikut membantu mendampingi anak-anak belajar membaca dan menulis. Dengan semangat sukarela, mereka menyisihkan waktu untuk turun ke lapangan, mengajar, serta mendampingi anak-anak yang mengalami kesulitan belajar tanpa mengharapkan imbalan.

Selama menjalankan misinya, Komunitas Insan Kreatif Gemilang turut memberikan pendampingan kepada 14 anak putus sekolah di Kelurahan Baru. Selain itu, para relawan juga aktif membantu siswa di SMPN 1 Kumai yang masih mengalami kesulitan membaca dan menulis agar mereka tidak semakin tertinggal dalam mengikuti proses pembelajaran.

Namun, Mia Cisadani menyatakan, fakta tersebut belum mencakup seluruh persoalan yang ditemui di lapangan. Ia mengungkapkan, dirinya juga pernah menemukan anak-anak di wilayah Raja Seberang yang belum mampu membaca.

Bahkan, ia memperoleh informasi mengenai seorang lulusan SMK di Kecamatan Kumai yang tidak bisa membaca hingga akhirnya kesulitan memperoleh pekerjaan yang lebih layak dan kini bekerja sebagai tukang parkir.

"Persoalan literasi merupakan tanggung jawab bersama yang tidak bisa dibebankan hanya kepada sekolah. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, tenaga pendidik, orang tua, komunitas, serta masyarakat agar setiap anak mendapatkan hak yang sama untuk belajar membaca, menulis, dan berkembang sesuai potensinya," ungkapnya dengan tegas.

Melalui gerakan yang terus dilakukan, Komunitas Insan Kreatif Gemilang berharap kehadiran para relawan mampu menjadi jembatan bagi anak-anak yang tertinggal dalam kemampuan literasi. 

Di balik setiap huruf yang berhasil mereka baca dan setiap kata yang mampu mereka tulis, tersimpan harapan besar agar tidak ada lagi masa depan anak yang terhenti hanya karena tidak memperoleh kesempatan belajar sejak dini. (NURITA/H)