BORNEONEWS, Jakarta – Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM menyebut kehadiran obat dengan zat aktif tirzepatide dapat memperluas pilihan terapi bagi pasien penyakit metabolik, khususnya diabetes melitus tipe 2 dan manajemen berat badan sesuai kebutuhan medis.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengatakan diabetes melitus tipe 2 dan obesitas menjadi tantangan kesehatan global yang memerlukan perhatian serius. Kedua kondisi tersebut terus meningkat dan berdampak luas terhadap kualitas hidup masyarakat.
"BPOM akan terus berkomitmen untuk terus melakukan berbagai terobosan sebagai upaya meningkatkan ketersediaan obat-obatan baru yang inovatif di Indonesia," kata Taruna di Jakarta, Minggu, 5 Juli 2026.
Ia menjelaskan, diabetes melitus tipe 2 merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi. Berdasarkan data International Diabetes Federation atau IDF Diabetes Atlas 2025, sekitar 11,1 persen populasi dewasa dunia hidup dengan diabetes. Dari jumlah tersebut, empat dari 10 orang tidak menyadari bahwa mereka memiliki penyakit tersebut.
Selain diabetes, peningkatan prevalensi obesitas juga menjadi tantangan kesehatan yang perlu mendapat perhatian. Secara global, jumlah individu dengan kelebihan berat badan dan obesitas terus meningkat, termasuk di Indonesia.
Mengutip data Survei Kesehatan Indonesia atau SKI 2023, prevalensi obesitas pada penduduk dewasa usia 18 tahun ke atas meningkat dari 21,8 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2023.
Taruna menilai kondisi tersebut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penyakit kronis. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor kesehatan, tetapi juga terhadap produktivitas nasional dan beban sistem kesehatan.
"Kondisi tersebut menegaskan pentingnya pendekatan holistik dalam penanganan penyakit metabolik, yang meliputi pencegahan, deteksi dini, perubahan gaya hidup, serta ketersediaan terapi yang efektif dan berbasis bukti ilmiah," ujarnya.
Taruna menjelaskan tirzepatide bekerja dengan mekanisme yang menyerupai hormon alami tubuh, yakni glucose-dependent insulinotropic polypeptide atau GIP dan glucagon-like peptide-1 atau GLP-1. Kedua hormon ini diproduksi di usus dan bekerja pada beberapa reseptor spesifik, termasuk di pankreas dan otak.
Menurutnya, tirzepatide membantu meningkatkan sekresi insulin, menekan hormon glukagon, dan meningkatkan sensitivitas insulin. Mekanisme tersebut berperan dalam membantu pengaturan kadar gula darah.
Selain itu, tirzepatide juga dapat memperlambat pengosongan lambung. Karena mekanisme tersebut, terapi ini turut menjadi perhatian dalam pengelolaan berat badan berdasarkan pertimbangan klinis.
"Kehadiran tirzepatide sebagai terapi inovatif diharapkan dapat memperluas pilihan pengobatan bagi pasien, khususnya dalam pengelolaan diabetes melitus tipe 2 dan berat badan," ujar Taruna.
Ia menyebut inovasi terapi seperti tirzepatide menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Selain tirzepatide, BPOM juga telah menerbitkan izin edar terhadap obat sejenis dengan indikasi serupa, seperti semaglutide dan liraglutide.
Taruna menegaskan BPOM berkomitmen memastikan setiap produk obat yang beredar di Indonesia telah melalui proses evaluasi ketat sesuai standar internasional. Evaluasi tersebut dilakukan untuk menjamin aspek keamanan, khasiat, dan mutu produk.
"Setelah memperoleh izin edar, keamanan obat terus dipantau melalui farmakovigilans sebagai bagian dari pengawasan pascapemasaran," katanya.
BPOM juga menekankan pentingnya penggunaan obat sesuai indikasi dan pengawasan tenaga kesehatan. Hal ini penting agar terapi inovatif dapat memberikan manfaat optimal serta tetap memperhatikan keamanan pasien.
Taruna menambahkan, kolaborasi antara regulator, industri farmasi, dan tenaga kesehatan perlu terus diperkuat. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk mempercepat akses masyarakat terhadap obat-obatan inovatif yang aman, berkhasiat, dan bermutu.
ANTARA









