SAMARINDA –

BORNEONEWS, Samarinda – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Kalimantan Timur mendorong pemanfaatan biogas dari kotoran sapi sebagai sumber energi alternatif bagi masyarakat peternak.

Kepala Dinas ESDM Kaltim, Bambang Arwanto, mengatakan inovasi tersebut telah membantu warga mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Selain itu, pemanfaatan biogas juga mampu menekan biaya pengeluaran rumah tangga.

"Program konversi limbah ternak ini terbukti memotong ketergantungan warga terhadap bahan bakar fosil sekaligus menekan biaya pengeluaran rumah tangga," kata Bambang di Samarinda, Minggu, 5 Juli 2026.

Salah satu contoh keberhasilan program ini terlihat pada Kelompok Ternak Tirto Sari di Samboja. Kelompok tersebut mengolah kotoran sapi menjadi biogas yang dapat digunakan untuk kebutuhan memasak sehari-hari.

Bambang menjelaskan, sejak 2011 sedikitnya 570 unit reaktor biogas skala rumah tangga telah dibangun di sejumlah desa pada tujuh kabupaten di Kalimantan Timur. Beberapa daerah penerima manfaat antara lain Kutai Kartanegara, Kutai Timur, dan Paser.

"Dari tinjauan kami di Kutai Kartanegara dan Paser, masyarakat peternak sapi hanya membutuhkan satu tabung LPG cadangan, karena mayoritas kebutuhan dapur sudah tercukupi dari kotoran sapi di kandang sendiri," ujarnya.

Selain menghasilkan energi untuk memasak, proses penguraian kotoran sapi di dalam reaktor juga menghasilkan produk sampingan berupa pupuk organik cair dan padat.

Menurut Bambang, pupuk organik tersebut dapat dimanfaatkan untuk perkebunan warga. Bahkan, sebagian peternak mulai memperoleh tambahan pendapatan dari penjualan pupuk tersebut.

Ia menyebut peternak kreatif bisa mendapatkan penghasilan tambahan sekitar Rp300.000 hingga Rp500.000 per bulan dari penjualan pupuk hasil pengolahan biogas.

"Kami melihat ada juga potensi pengembangan UMKM di sekitar lokasi kandang, seperti usaha pengolahan makanan, yang proses produksinya bisa menggunakan energi bersih ini," tuturnya.

Bambang mengatakan Pemerintah Provinsi Kaltim juga meningkatkan dukungan melalui penyaluran 11 unit reaktor biogas skala besar pada tahun lalu. Reaktor tersebut memiliki kapasitas 17 meter kubik.

Reaktor berkapasitas besar itu tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan dapur warga, tetapi juga mampu menghasilkan listrik untuk penerangan lingkungan komunal di pedesaan.

"Dukungan teknologi ini bertujuan menciptakan ekosistem ekonomi sirkular terintegrasi, sehingga limbah peternakan tidak lagi menjadi masalah lingkungan melainkan menjadi aset kesejahteraan," tegas Bambang.

Ia menambahkan, penggunaan pupuk hasil biogas juga berdampak positif terhadap produktivitas tanaman sayur warga. Dengan pupuk organik tersebut, masyarakat tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli pupuk kimia.

"Keberhasilan di Kutai Kartanegara ini merupakan contoh bagi wilayah lain dalam mewujudkan kedaulatan energi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan bagi masyarakat," katanya.

Bambang berharap pemanfaatan biogas dari limbah ternak dapat terus diperluas. Selain mendukung transisi energi, program ini juga dinilai mampu memperkuat ekonomi peternak dan mendorong kemandirian energi masyarakat desa.

ANTARA