BORNEONEWS, Padang – Banyaknya warga negara Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri dinilai tidak hanya dipengaruhi faktor teknologi medis atau kompetensi tenaga kesehatan. Keputusan tersebut juga berkaitan erat dengan pengalaman pelayanan dan tingkat kepercayaan pasien terhadap sistem kesehatan di dalam negeri.
Pakar sekaligus Guru Besar Administrasi Layanan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Prof Rima Semiarty, mengatakan pengalaman pasien menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi keputusan untuk mencari pengobatan ke negara lain.
"Dari perspektif administrasi layanan kesehatan menunjukkan bahwa keputusan pasien berobat ke luar negeri banyak dipengaruhi oleh pengalaman pelayanan yang mereka rasakan," kata Rima di Padang, Minggu, 5 Juli 2026.
Ia menjelaskan, pengalaman pelayanan tersebut mencakup kualitas komunikasi tenaga kesehatan dengan pasien, kepastian layanan, kemudahan akses, transparansi informasi, serta kenyamanan selama menjalani proses pelayanan kesehatan.
Menurut Rima, fenomena meningkatnya masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri menjadi tantangan penting dalam pembangunan kesehatan nasional. Setiap tahun, jutaan WNI mencari layanan kesehatan di Malaysia, Singapura, dan sejumlah negara lainnya.
Kondisi tersebut berdampak pada hilangnya devisa dalam jumlah besar. Namun, Rima menilai persoalannya tidak bisa hanya dilihat dari aspek fasilitas atau kemampuan medis.
Di balik keputusan pasien berobat ke luar negeri, terdapat persoalan mendasar terkait kepercayaan masyarakat terhadap sistem pelayanan kesehatan di Indonesia.
Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, terdapat lima persoalan utama yang perlu menjadi perhatian. Pertama, komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien yang belum optimal.
Kedua, masih adanya ketimpangan akses terhadap layanan spesialis dan subspesialis. Ketiga, rendahnya transparansi informasi layanan kesehatan. Keempat, budaya pelayanan yang belum sepenuhnya berorientasi pada pasien.
Kelima, ekosistem pelayanan kesehatan yang belum terintegrasi secara menyeluruh. Berbagai persoalan tersebut dinilai berpengaruh terhadap kepuasan dan kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit di dalam negeri.
"Berbagai faktor tersebut pada akhirnya memengaruhi tingkat kepuasan dan kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit di dalam negeri," ujar Rima.
Ia menilai, pemangku kepentingan, khususnya rumah sakit, perlu melakukan transformasi layanan kesehatan yang berfokus pada upaya membangun kembali kepercayaan masyarakat.
Rima menyebut setidaknya ada tiga arah transformasi yang dapat dilakukan. Pertama, penguatan pelayanan yang lebih humanis dan berpusat pada pasien.
Kedua, pengembangan sistem layanan yang cepat, pasti, dan transparan. Ketiga, penguatan kolaborasi antara pemerintah, rumah sakit, perguruan tinggi, organisasi profesi, dunia usaha, dan masyarakat.
Melalui langkah tersebut, rumah sakit di Indonesia diharapkan tidak hanya meningkatkan mutu layanan, tetapi juga mampu membangun kembali kepercayaan publik.
Rima berharap layanan kesehatan nasional dapat berkembang menjadi lebih bermutu, berkeadilan, dan mampu memenuhi harapan masyarakat di dalam negeri.
ANTARA









