PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Komoditas kelapa sawit dinilai masih menjadi salah satu sektor strategis yang menopang perekonomian Indonesia. Selain berkontribusi terhadap devisa negara, sawit juga memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat, penyerapan tenaga kerja, hingga mendukung ketahanan pangan dan energi.

Pengamat Ekonomi Perkebunan sekaligus Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, Rawing Rambang, mengatakan kelapa sawit merupakan komoditas yang menarik untuk dibahas karena memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari.

"Kelapa sawit tidak hanya menjadi bahan baku pangan, tetapi juga energi. Kontribusinya sangat nyata dari sisi ekonomi, sosial maupun lingkungan," kata Rawing kepada Borneonews pada Senin, 6 Juli 2026.

Menurut Rawing Rambang, dari aspek ekonomi, industri sawit mampu menghasilkan devisa bagi negara sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat. Sementara dari sisi sosial, sektor ini menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar, mulai dari kegiatan budidaya hingga industri pengolahan.

Ia menambahkan, sawit juga memiliki keunggulan karena dapat dikembangkan pada berbagai kondisi lahan, termasuk tanah kritis, tanah berpasir, rawa hingga lahan gambut dangkal. Dengan penerapan teknologi budidaya yang baik, tanaman sawit mampu menghasilkan sekitar 15 hingga 20 ton tandan buah segar (TBS) per hektare setiap tahun.

"Hal ini menunjukkan sawit memiliki kemampuan adaptasi yang baik sehingga berpotensi menjadi solusi pemanfaatan lahan yang kurang produktif," kata Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah ini lagi.

Rawing juga menyoroti dinamika pasar global yang sempat dipengaruhi konflik di Timur Tengah. Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat dan Israel sempat memicu kenaikan harga minyak fosil maupun minyak nabati, termasuk minyak sawit, minyak kedelai dan minyak jagung.

Ia menjelaskan, pada masa konflik tersebut harga komoditas minyak nabati sempat meningkat hingga sekitar 11,57 persen. Namun setelah tercapainya kesepakatan damai, harga mulai mengalami koreksi dengan penurunan sekitar 8,81 persen hingga awal Juni.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa industri sawit juga sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik dunia.

Karena itu, Rawing berharap komoditas kelapa sawit tetap menjadi sektor unggulan nasional yang mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan secara berkelanjutan.

"Kelapa sawit telah membuktikan keandalannya selama ini. Ke depan diperlukan iklim investasi yang kondusif serta dukungan seluruh pihak agar keberlanjutan industri sawit tetap terjaga dan mampu terus memberikan manfaat bagi masyarakat maupun negara," tuturnya. (TESTI PRISCILLA/H)