BORNEONEWS, Palangka Raya – Anggota Komisi II DPRD Palangka Raya, Khemal Nasery, menyampaikan keprihatinannya atas pemadaman listrik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Menurutnya, gangguan pasokan listrik tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak pada perekonomian, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Khemal mengatakan, banyak pelaku UMKM mengalami penurunan pendapatan akibat aktivitas usaha yang terhambat selama pemadaman berlangsung.
Bahkan, sebagian pelaku usaha terpaksa menggunakan generator set (genset) sebagai sumber listrik cadangan, yang menyebabkan biaya operasional meningkat karena harus membeli bahan bakar dengan harga yang relatif tinggi.
"Pemadaman listrik yang berulang tentu sangat merugikan masyarakat, terutama pelaku UMKM. Mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengoperasikan genset, sementara harga bahan bakar seperti Pertamax juga tidak murah. Kondisi ini jelas menambah beban usaha," ujar Khemal, Senin 6 Juli 2026.
Selain berdampak terhadap dunia usaha, ia menilai pemadaman listrik juga berpotensi meningkatkan risiko gangguan keamanan dan tindak kejahatan di lingkungan masyarakat, terutama pada malam hari ketika penerangan terbatas.
"Kondisi gelap akibat listrik padam bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Karena itu, persoalan ini tidak bisa dianggap sepele dan harus segera mendapat penanganan yang serius," katanya.
Khemal meminta pihak PLN bersikap terbuka kepada masyarakat terkait penyebab gangguan listrik, langkah-langkah perbaikan yang sedang dilakukan, serta estimasi waktu normalisasi. Menurutnya, keterbukaan informasi sangat penting agar masyarakat tidak terus diliputi ketidakpastian.
"Kami meminta PLN memberikan penjelasan yang transparan kepada masyarakat dan memastikan persoalan ini tidak berlarut-larut. Keandalan pasokan listrik sangat penting untuk mendukung aktivitas ekonomi, pelayanan publik, dan menjaga keamanan masyarakat. Kami berharap gangguan ini segera teratasi sehingga aktivitas warga dapat kembali berjalan normal," tutup Khemal. (MARINI/H)









