BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah mencatat Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan atau NTPP pada Juni 2026 mengalami penurunan sebesar 0,97 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi turunnya harga hasil panen, sementara biaya yang harus dikeluarkan petani justru meningkat.
Pelaksana Tugas Kepala BPS Kalimantan Tengah, Maria Wahyu Utami, mengatakan penurunan NTPP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) tanaman pangan turun 0,19 persen. Di sisi lain, indeks harga yang dibayar petani (Ib) meningkat sebesar 0,77 persen.
"Penurunan NTPP menunjukkan harga hasil pertanian yang diterima petani menurun, sementara pengeluaran yang harus dibayar petani mengalami kenaikan," ujar Maria pada Senin, 6 Juli 2026.
Kondisi serupa juga terjadi pada Nilai Tukar Usaha Pertanian atau NTUP tanaman pangan yang turun sebesar 0,82 persen pada Juni 2026.
Menurut Maria, penurunan NTUP juga dipicu melemahnya indeks harga yang diterima petani sebesar 0,19 persen, sedangkan indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal atau BPPBM meningkat 0,63 persen.
Ia menjelaskan, penurunan indeks harga yang diterima petani terutama berasal dari kelompok padi yang turun 0,22 persen.
"Penurunan harga gabah terjadi karena pada Juni 2026 sebagian besar wilayah di Kalimantan Tengah sedang memasuki masa panen, sehingga pasokan meningkat dan harga cenderung turun," jelasnya.
Meski demikian, tidak semua komoditas tanaman pangan mengalami penurunan harga. Kelompok palawija justru mencatat kenaikan indeks sebesar 0,13 persen yang didorong meningkatnya harga ketela rambat dan kacang tanah.
Sementara itu, kenaikan indeks harga yang dibayar petani dipengaruhi naiknya dua komponen utama, yakni kelompok konsumsi rumah tangga (KRT) sebesar 0,82 persen dan kelompok Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) sebesar 0,63 persen.
Maria menambahkan, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa meskipun sebagian petani tengah menikmati masa panen, peningkatan biaya hidup dan biaya produksi masih menjadi tantangan yang memengaruhi nilai tukar petani tanaman pangan di Kalimantan Tengah. (TESTI PRISCILLA/H)









