SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), yang telah berlangsung selama lima hari mulai mengancam keberadaan tiang Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). 

"Kondisi area terbakar di Eka Bahurui sebenarnya membahayakan bagi tiang SUTET. Jadi, dimungkinkan kalau tidak dilakukan penanganan secara komprehensif, nanti akan semakin sulit dalam penanganannya karena di lokasi ada tiang SUTET," kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, Rabu, 8 Juli 2026.

Karhutla di Desa Eka Bahurui pertama kali terdeteksi melalui patroli udara pada Jumat, 3 Juli 2026, sekitar pukul 13.36 WIB. Sejak saat itu, petugas terus melakukan pemantauan dan pemadaman, namun upaya di lapangan terkendala akses menuju lokasi serta jauhnya sumber air.

Medan yang sulit dan kondisi lahan gambut yang terus terbakar membuat BPBD Kotim meminta bantuan helikopter water bombing dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Selasa, 7 Juli 2026.

Saat ini, operasi pemadaman dari udara masih dilakukan di Desa Eka Bahurui untuk mencegah api semakin meluas dan mendekati infrastruktur vital tiang SUTET.

Selain di Eka Bahurui, BNPB juga mengerahkan satu helikopter water bombing lainnya untuk menangani kebakaran di wilayah perbatasan Desa Soren dan Desa Camba, Kecamatan Kota Besi.

"Posisi saya sekarang di Desa Eka Bahurui. Jadi ada dua unit helikopter yang diterjunkan oleh BNPB. Yang pertama sasarannya Desa Eka Bahurui yang sudah hampir lima hari belum padam. Kemudian yang kedua di perbatasan Desa Soren dengan Camba," ujar Multazam.

BPBD berharap operasi pemadaman melalui jalur udara mampu mempercepat pemadaman api. (DEWI PATMALASARI/H)