SEBAGAI Sebuah pentas, acara debat para kandidat Bupati dan wakil Bupati Kotawaringin Barat pada Sabtu (7/1/2017) cukup elegan ditonton. Para kandidat dengan lancar menyampaikan visi dan misi masing-masing.
Debat kandidat ini dipandu moderator Rektor Universitas Anta Kusuma (Untama) Profesor Jeffrie Wattimena . Mekanisme debat juga sangat lazim, yakni ada pertanyaan umum dari moderator, dan juga ada pertanyaan antar kandidat.
Dalam rangka menjabarkan tema debat yang berbunyi “Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Kotawaringin Barat dengan Menyelaraskan Pembangunan dalam Menghadapi Era Globalisasi”, maka setiap pasangan menetapkan pijakan program masing-masing.
Misalnya, pasangan nomor urut 1, yaitu Bambang Purwanto-Said Syamsuddin Noor (Pak De-Said), memilih pijakan dengan menyuarakan pembangunan infrastuktur dan pemerataan. Pasangan nomor urut 2 Indrawan Sakti-Noorhanudin (Indranor) menekankan soal akses kesehatan.
Selanjutnya nomor urut 3 Hj Nurhidayah-Ahmadi Riansyah (NURANI), bertekad membangun perekonomian kerakyatan, ketersediaan lapangan pekerjaan, pariwisata dan jaminan keamanan.
Nomor urut 4, pasangan Desi Hercules-Gusti Awaludin (SIDIN) menyuarakan pembangunan di sektor pendidikan dan pemerataan pembangunan. Dan nomor urut 5 Eko Sumarno-Yudie Junas (Eko-Yu) menekankan pentingnya kerukunan dalam kehidupan masyarakat.
Sekali lagi, secara performa, semua kandidat cukup layak tampil di atas panggung politik. Karena itu, masyarakat Kotawaringin patut berbangga jika salah satu diantara pasangan itu kelak akan menjadi pemimpin daerah marunting batu aji ini.
Ada hal yang menarik dicatat dalam debat atau yang lebih tepat disebut dialog ini. Pasangan nomor urut 3, (Nurhidayah dan Ahmadi Riansyah) , melontarkan pertanyaan terkait dengan implementasi UU No 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah. Menurut Paslon nomor urut tiga ini, keberhasilan Kabupaten Kotawaringin Barat dalam mendapat dana insentif daerah (DID) sebesar Rp50 miliar sebagai ganjaran atas opini Wajar Tanpa Pengecualian dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) merupakan prestasi yang harus ditingkatkan. Nilai insentif tersebut akan diproyeksikan naik menjadi Rp70 miliar di tahun depan.
" Kami menanyakan langkah strategis apa yang harus diambil pasangan nomor urut 4 untuk mengupayakan hal itu, sementara pasangan independen tidak mempunyai wakil di parlemen (DPRD). Hal ini penting karena DID sangat bermanfaat besar bagi pemkab," kata Calon Wakil Bupati, Ahmadi Riansyah.
Desi Hercules-Gusti Awaludin (SIDIN) sebagai pasangan nomor 4 yang seharusnya menjawab, justru bertanya kepada moderator, apakah hal itu perlu dijawab atau tidak.
"Pak Moderator boleh saya tidak menjawab pertanyaan ini, karena saya anggap sudah di luar konteks tema. Ini menyerang pribadi atau aib dan saya akan menanggapi sesuai tema dengan tema tentang peningkatan kesejahteraan masyarakat," kata Desi.
Membuang Kesempatan
Pertanyaan Nurani, jika kita cermati, sungguh sangat gamblang terlihat, bahwa tidak ada unsur penyerangan pribadi. Apalagi unsur membuka aib pasangan Sidin.
Pertanyaan itu sangat logis dan objektif. Sesuai dengan fakta politik, Nurani didukung 23 kursi DPRD Kobar. Sedangkan pasangan Sidin merupakan pasangan independen yang tidak memiliki basis dukungan di parlemen. Nah, dalam kondisi demikian, bagaimana pasangan Sidin bisa memimpin dan membangun kinerja pemerintahan yang baik? Bagaimana pula Sidin mampu menjalin komunikasi politik yang yahud, sehingga eksekutif dan legislatif bisa serempak, kompak-sejalan.
Tetapi sayang, Sidin membuang kesempatan ini. Padahal, jawaban dia akan menujukkan kehandalan dan kepiawaian dirinya sebagai politisi, sebagai pemimpin. (*)








