KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Banjarmasin - Fenomena matinya ribuan ikan di aliran Sungai Martapura dilaporkan terus terjadi dalam sepekan terakhir. Temuan ikan mengapung tersebut disebut muncul di sejumlah titik di Kabupaten Banjar, memicu kekhawatiran warga terhadap kondisi kualitas air sungai serta dampaknya terhadap lingkungan dan mata pencaharian masyarakat.

Pada Rabu malam, 8 Juli 2026, warga kembali melaporkan ribuan ikan mati mengapung di aliran Sungai Martapura. 

"Penyebab masyarakat di kawasan Sungai Martapura tidak bisa mandi dan berwudhu ada banyak ikan yang mati mengapung di sungai," demikian laporan warga yang diterima pihak relawan.

Lokasi temuan disebut tersebar mulai dari Desa Pingaran, Tambak Anyar, Antasan Senor, hingga diduga telah mencapai Desa Pakauman, Kabupaten Banjar. Berbagai jenis ikan ditemukan mati, sementara penyebab pasti kejadian tersebut hingga kini masih belum diketahui.

Fenomena serupa sebelumnya juga dilaporkan terjadi di kawasan Sungai Arfat, Kecamatan Karang Intan, dalam beberapa hari terakhir. Di lokasi tersebut, ribuan ikan berbagai jenis ditemukan mati. Sebagian besar di antaranya merupakan ikan budidaya yang dipelihara warga di keramba, sehingga menimbulkan kerugian bagi para pembudidaya.

Dugaan sementara mengarah pada menurunnya kualitas air di kawasan tersebut. Namun, hingga kini belum ada hasil pemeriksaan resmi yang memastikan penyebab kematian massal ikan, apakah dipicu oleh pencemaran, berkurangnya kadar oksigen terlarut, perubahan kondisi air, atau faktor lainnya.

Warga berharap instansi terkait segera melakukan pengambilan sampel air dan penyelidikan menyeluruh agar penyebab pasti kejadian dapat diketahui. Selain itu, masyarakat juga menginginkan adanya langkah cepat dari pemerintah untuk mencegah fenomena serupa meluas ke wilayah lain dan meminimalkan dampaknya terhadap sektor perikanan.

Hingga berita ini ditulis, belum diketahui tindakan yang akan diambil pemerintah daerah terkait fenomena kematian massal ikan tersebut. Masyarakat masih menunggu hasil investigasi dari instansi berwenang sebagai dasar penanganan dan upaya pemulihan kondisi perairan Sungai Martapura beserta kawasan terdampak lainnya. (SABRIANOOR/j)