JAKARTA –

BORNEONEWS, Tangerang - Dokter Spesialis Bedah Vaskular Eka Hospital Depok, Tom Christy Adriani, menyebut intervensi vaskular dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu mencegah risiko stroke berulang.

Tindakan tersebut terutama dapat dipertimbangkan bagi pasien berisiko tinggi, pernah mengalami stroke ringan, atau memiliki riwayat stroke iskemik berulang.

Tom menjelaskan, intervensi vaskular merupakan tindakan invasif minimal tanpa pembedahan terbuka yang dilakukan untuk membuka kembali pembuluh darah yang mengalami penyempitan.

Prosedur ini bertujuan memperbaiki aliran darah ke otak dengan membuka pembuluh darah yang menyempit atau tersumbat. Dengan begitu, risiko stroke dapat ditekan.

Menurutnya, tindakan ini dilakukan untuk mengatasi stroke iskemik, yakni stroke yang terjadi akibat penyumbatan aliran darah ke otak.

Stroke iskemik disebut sebagai jenis stroke yang paling umum dan mencakup sekitar 87 persen dari seluruh kasus stroke di dunia.

"Penyebab utamanya adalah penumpukan plak atau gumpalan darah yang menyumbat arteri di leher maupun pembuluh darah di dalam otak," kata Tom dalam keterangannya di Tangerang, Jumat, 10 Juli 2026.

Tom mengatakan, pasien dengan penyempitan arteri karotis di atas 60 hingga 70 persen sangat disarankan menjalani pemeriksaan skrining vaskular dan mempertimbangkan tindakan intervensi.

Hal serupa juga berlaku bagi pasien dengan riwayat transient ischemic attack atau TIA, stroke ringan, maupun stroke iskemik berulang.

Selain itu, kelompok pasien dengan diabetes, hipertensi kronis, dan kolesterol tinggi juga perlu waspada apabila mengalami gejala gangguan aliran darah ke otak.

Gejala tersebut dapat berupa sering pusing berputar, lemas pada satu sisi tubuh, atau bicara tiba-tiba pelo.

"Pencegahan stroke iskemik harus dilakukan secara cepat sebelum penyumbatan total merusak sel-sel otak secara permanen. Deteksi dini struktur pembuluh darah kepala Anda adalah perlindungan terbaik dari ancaman kelumpuhan," ujarnya.

Tom menjelaskan, ada beberapa prosedur intervensi vaskular yang dapat dilakukan untuk mencegah maupun menangani stroke iskemik.

Salah satunya dengan memasukkan kateter kecil melalui pembuluh darah di pangkal paha atau pergelangan tangan menuju arteri karotis yang menyempit.

Setelah itu, balon khusus dikembangkan untuk melebarkan pembuluh darah. Kemudian dipasang stent atau tabung jaring logam agar arteri tetap terbuka.

"Dengan aliran darah yang lebih lancar, risiko terjadinya stroke dapat berkurang," katanya.

Prosedur lainnya yakni mechanical thrombectomy. Tindakan ini dilakukan untuk menangani stroke iskemik akut akibat penyumbatan pembuluh darah besar di otak.

Melalui kateter yang dimasukkan dari pembuluh darah di pangkal paha atau pergelangan tangan, dokter menggunakan alat khusus untuk menangkap dan mengeluarkan gumpalan darah yang menyumbat aliran darah ke otak.

Tom menyebut tindakan tersebut umumnya dilakukan pada pasien yang masih berada dalam periode penanganan optimal.

Tujuannya untuk meningkatkan peluang pemulihan dan mengurangi risiko kecacatan permanen.

"Dibandingkan dengan operasi bedah saraf terbuka konvensional, teknik intervensi vaskular memiliki berbagai keunggulan klinis yakni tanpa sayatan besar, risiko rendah dan pemulihan cepat," ujarnya.

ANTARA