JAKARTA –

BORNEONEWS, Beijing - Pemerintah China memperketat langkah antisipasi cuaca ekstrem setelah peringatan oranye hujan badai diterbitkan untuk wilayah Beijing.

Langkah darurat diterapkan untuk meminimalkan risiko banjir, longsor, genangan air, dan bencana hidrometeorologi lain yang berpotensi terjadi akibat hujan sangat lebat.

Biro Meteorologi Beijing mengeluarkan peringatan oranye hujan badai yang berlaku mulai Jumat, 10 Juli 2026 pukul 14.00 hingga Minggu, 12 Juli 2026 pukul 08.00 waktu setempat.

Curah hujan berintensitas tinggi diperkirakan melanda sejumlah distrik, termasuk Huairou, Miyun, Pinggu, Shunyi, dan Fangshan.

Media pemerintah China melaporkan, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan, mengikuti informasi cuaca terbaru, serta menggunakan transportasi umum.

Perusahaan dan lembaga publik juga didorong menerapkan aturan kerja fleksibel atau mengatur jam perjalanan pegawai secara bertahap.

Sementara itu, sekolah diminta membatalkan kegiatan belajar dan latihan tatap muka dengan menyesuaikan kondisi di lapangan.

Pantauan ANTARA di Beijing menunjukkan hujan mulai turun disertai petir sekitar pukul 07.30 waktu setempat di Distrik Chaoyang.

Otoritas setempat memperkirakan curah hujan di beberapa wilayah dapat melampaui 70 milimeter per jam.

Akumulasi hujan dalam 24 jam juga berpotensi melebihi 150 milimeter.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko banjir, tanah longsor, banjir bandang, dan genangan air, terutama di kawasan pegunungan, perbukitan, serta wilayah dataran rendah.

Sejalan dengan peringatan tersebut, masyarakat diminta tidak mengunjungi lokasi wisata di kawasan pegunungan maupun sekitar aliran sungai.

Warga juga diimbau menjauhi fasilitas komersial bawah tanah, wilayah rawan bencana geologi, sungai, dan kanal selama periode cuaca ekstrem.

Seluruh kegiatan luar ruangan, pekerjaan konstruksi, serta aktivitas operasional di lapangan diminta dihentikan sementara.

Kegiatan olahraga berskala besar, aktivitas luar ruang yang terorganisasi, dan pelatihan olahraga juga diminta ditangguhkan selama peringatan berlaku.

Distrik Pinggu, Miyun, dan Fangshan diperkirakan menghadapi risiko tinggi banjir, longsor, banjir lumpur, dan amblesan tanah dengan status risiko oranye.

Sementara itu, Distrik Haidian, Fengtai, Chaoyang, Shijingshan, dan Tongzhou berada pada tingkat risiko kuning akibat potensi banjir perkotaan dan genangan air.

Peringatan dini ini dikeluarkan setelah Beijing pernah dilanda hujan ekstrem pada Juli 2025.

Saat itu, hujan deras selama beberapa hari menyebabkan sedikitnya 28 orang meninggal dunia di Distrik Miyun, kawasan pegunungan timur laut Beijing.

Dua korban jiwa lainnya juga tercatat di Distrik Yanqing, bagian utara ibu kota, menurut laporan media pemerintah.

China menerapkan sistem peringatan cuaca bertingkat menggunakan kode warna untuk berbagai jenis bencana alam.

Peringatan biru menjadi tingkat kewaspadaan terendah, sedangkan kuning menunjukkan kondisi siaga.

Peringatan oranye menandakan potensi cuaca berbahaya yang dapat menimbulkan kerusakan signifikan.

Adapun peringatan merah merupakan tingkat tertinggi yang menunjukkan kondisi darurat dengan ancaman bencana besar terhadap keselamatan masyarakat.

Cuaca ekstrem juga melanda wilayah selatan China.

Pemerintah Daerah Otonom Guangxi Zhuang melaporkan 39 orang meninggal dunia dan sembilan lainnya masih hilang akibat hujan lebat yang melanda wilayah tersebut.

ANTARA