BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harapan akan membaiknya harga minyak sawit pada perdagangan awal pekan ini sempat mencuat menyusul menguatnya harga minyak mentah dunia pada akhir pekan lalu.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk kontrak Februari naik 23 sen, atau 0,4%, menjadi $53,99 per barrel di New York Mercantile Exchange. Dalam sepekan lalu, minyak WTI naik sekitar 0,5% setelah dalam tiga pekan sebelumnya juga menguat, menurut data FactSet.

Sedangkan minyak mentah Brent untuk kontrak Maret menguat 21 sen, atau 0,4%, menjadi $57,10 per barrel di ICE Futures exchange, London, dan menguat sekitar 0,5% dalam sepekan lalu.

Namun, harapan itu berangsur memudar setelah pada perdagangan Senin ini (9/1/2017), harga minyak mentah kembali melemah setelah ada laporan bahwa Iran meningkatkan kuota ekspor minyak mentahnya dan aktivitas pengeboran di AS mengalami peningkatan selama 10 pekan terakhir.

Kondisi tersebut berlawanan dengan harapan pasar terhadap komitmen OPEC dan produsen minyak besar di luar OPEC, seperti Rusia, untuk melaksanakan kesepakatan pemangkasan produksi mulai awal tahun ini, kata pelaku pasar di Kuala Lumpur, seperti dilansir Investing.

Faktor berikutnya yang diprediksi membuat suram prospek kenaikan harga minyak sawit adalah menguatnya nilai tukar ringgit Malaysia terhadap dolar AS, yang membuat harga minyak sawit ditutup melemah di level terendah dalam dua pekan pada perdagangan akhir pekan lalu.

Futures minyak sawit untuk kontrak Maret, 1FCPOc3, di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, turun 0,7 persen menjadi 3.075 ringgit ($688) per ton pada penutupan Jumat. Pada awal perdagangan, harga minyak sawit sempat menyentuh 3.028 ringgit, yang merupakan level terendah sejak 23 Desember.

Faktor lainnya adalah melemahnya futures jagung dan biji kedelai di Chicago Board of Trade pada akhir pekan lalu menyusul tanda-tanda melemahnya permintaan ekspor. Minyak jagung dan minyak kedelai adalah komoditas yang menjadi pesaing minyak sawit di pasar dunia. (NEDELYA RAMADHANI/m)